LURUSKAN PERSEPSI DEMI MENGHINDARI DISKRIMINASI ODHA

Oleh: Balqis Hafidhah

PSKM FKK Universitas Muhammadiyah Jakarta

Tepat pada tanggal 1 Desember 2014 masyarakat di seluruh belahan dunia memperingati World AIDS Day atau yang lebih dikenal dengan Hari AIDS Sedunia. Begitu pun Indonesia yang juga ikut berpartisipasi memperingati Hari AIDS Sedunia ini. “Cegah dan Lindungi Diri, Keluarga dan Masyarakat dari HIV-AIDS dalam rangka Perlindungan HAM untuk Indonesia Lebih Sehat” menjadi tema yang diusung di Indonesia. Hal yang menarik dari tema tahun ini adalah permasalahan HAM yang ikut diangkat bersama isu HIV-AIDS.

HAM dan HIV-AIDS memiliki hubungan yang penting. Mengapa? Mari kita lihat fenomena pengidap HIV-AIDS atau yang biasa disebut ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) sering kali menjadi kaum marjinal yang didiskriminasi dengan banyak stigma. Banyak yang berasumsi jika HIV-AIDS ini merupakan penyakit kutukan, dengan dalih tidak adanya obat dan prevalensi mortalitas yang tinggi. Pola pikir yang seperti ini haruslah diubah. UUD 1945 pasal 28 A-J dengan rinci menjelaskan HAM bagi setiap warga negara. Hal yang perlu ditekankan terutama pada UUD 1945 pasal 28 I (2) Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.

Sudah sangat jelas bahwa sikap diskriminatif kepada ODHA melanggar perundang-undangan. Namun pada kenyataannya ODHA mendapat diskriminasi dimulai dijauhi keluarga sendiri sampai teman, melamar kerja berakhir penolakan dimana-mana, menjadi bahan omongan di masyarakat yang berujung pada pengucilan, bahkan di pelayanan kesehatan terkenal HIV-AIDS ini dengan kode 3 Huruf yg menandakan HIV-AIDS menjadi momok menakutkan bahkan sekaliber tenaga kesehatan. Mitos-mitos tentang penulanan HIV-AIDS pun beredar luas, banyak salah persepsi mengenai HIV-AIDS pada masyarakat sehingga hal diskriminatif di atas muncul. Bayangkan dampak psiko-sosial yang ditimbulkan. ODHA yang sebenarnya masih bisa produktif pun bisa menutup diri dengan kondisi diatas berakhir stress dan lebih rentan meninggal.

Di sisi lain, peran lingkungan sangatlah penting. Seperti yang kita tahu lingkungan (keluarga, teman, rekan) sebagai significant other pada proses rehabilitasi sangatlah penting. Dukungan moral sangatlah dibutuhkan oleh ODHA.

Begitu juga dengan edukasi yang tak kalah penting terutama mengenai HIV-AIDS. Kenyataannya bahkan HIV-AIDS sudah masuk dalam kurikulum sekolah, tetapi masihlah salah persepsi mengenai HIV-AIDS beredar dimana-mana. Dibutuhkan optimalisasi komunikasi informasi mengenai edukasi kesehatan tentang HIV-AIDS. Langkah mendasar adalah meluruskan mitos-mitos yang beredar, misal mitos penularan HIV-AIDS yang sering beredar di masyarakat antara lain; gigitan nyamuk; bersentuhan kulit; makan dan minum bersama; berenang bersama dapat menularkan HIV-AIDS. Padahal jika tidak ada kontak dengan pintu masuk dan keluarnya darah, cairan kelamin, dan ASI yang terinfeksi HIV maka seharusnya tidak perlu ada kekhawatiran akan tertular.

Dengan berkembangpesatnya era digital dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi pendidikan kesehatan, dimulai dari tulisan di media sosial berupa tulisan ilmiah sampai cooltweet dapat dilakukan, ilustrasi gambar (kartun) dan juga slogan seperti   “Cegah penyakitnya, bukan pengidapnya” sangatlah populer. Kata-kata yang singkat, simple, namun bermakna seperti ini merupakan edukasi kesehatan yang komunikatif.

Mari kita luruskan persepsi, hindari stigma, hapuskan diskriminasi terhadap ODHA. Karena mereka juga punyak hak yang sama. Jauhi Virusnya, bukan ODHAnya. #saveODHA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: