RUU Nakes, Payung Hukum yang Dijanjikan

Pada sidang paripurna, senin (14/9/2009) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah mengesahkan Rancangan Undang-Undang Kesehatan. UU Kesehatan itu merupakan pengganti Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Undang-undang yang dalam proses pengesahannya mempunyai hal-hal yang kontroversial ini memberikan amanah pada pemerintah mengenai peraturan-peraturan yang harus segera diadakan oleh pemerintah untuk mengatur lebih rinci tentang poin-poin penting di undang-Undang ini.

Salah satu amanah dalam UU terbaru yang mengatur mengenai sistem kesehatan di Indonesia ini, terdapat pada Bab Sumber Daya Bidang Kesehatan, Pasal tentang Kewajiban Pemerintah akan Tenaga Kesehatan. Janji pemerintah yang tertuang dalam UU ini pada Bab Sumber Daya di Bidang Kesehatan pasal 21 ayat 3, yang menyebutkan bahwa Ketentuan mengenai tenaga kesehatan diatur dengan Undang-Undang. Respon pemerintah tentang janji ini terwujud dalam rencana prolegnas RUU prioritas 2011 yang diajukan RUU Tenaga Kesehatan oleh Komisi IX dan menggantikan keberadaan RUU Keperawatan di dalamnya.

Entah apa yang terjadi kepada wakil-wakil rakyat kita di rumahnya, Senayan, Jakarta, sehingga sampai pada hampir menginjak pertengahan tahun 2012 ini pembahasan masih belum kunjung dilakukan secara serius oleh komisi IX. Memprihatinkan ketika melihat di situs online wakil rakyat kita yang memajang file pdf RUU Tenaga Kesehatan, dan setelah didownload file tersebut masih tertuliskan “Komisi IX sampai saat ini masih menunggu badan legislasi DPR RI melakukan Perubahan Usul Inisiatif, semula Usul Inisiatif DPR RI di rubah menjadi Usul Pemerintah”. Masyarakat, khususnya Tenaga Kesehatan dibingungkan akan janji payung hukum dari pemerintah dan keterbatasan informasi akan hal ini.

Informasi yang beredar di masyarakatpun tidak kalah terbatasnya, ketika mencoba browsing di internet mengenai RUU Nakes, yang keluar di halaman pertama hanyalah artikel mengenai ketidaksepakatan profesi perawat akan digantikannya RUU Keperawatan dengan RUU Nakes pada Prolegnas DPR, selain itu juga hanya blog dari Tim ad hoc RUU Nakes ISMKMI (Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia / organisasi saya) beserta blog saya yang sedikit mengulas tentang rancangan janji payung hukum ini.

Keterbatasan informasi tentang RUU ini membuat organisasi-organisasi yang awalnya berjuang untuk mengoreksi dan mengadakan forum diskusi serta audiensi terkait perkembangan hal ini semakin mengurangi frekuensi gerakannya.

Pada kesempatan ini saya ingin menggelorakan kembali semangat untuk memperjuangkan payung hukum ini, di mana telah terasa pada PP nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan, payung hukum Nakes yang sekarang masih berlaku untuk saat ini, banyak ketidakcocokan pada dunia kerja tenaga kesehatan Indonesia.

RUU Nakes erat kaitannya dengan sistem pendidikan kesehatan Indonesia yang akan membentuk tenaga kesehatan yang siap menjalankan perannya. Ketidaksiapan sistem pendidikan kesehatan di Indonesia untuk membentuk satu suara terkait RUU Nakes ini mungkin salah satu faktornya. Contohnya saja terlihat perbedaan kurikulum dan standar kompetensi yang mencolok di antara institusi pendidikan kesehatan dalam kegiatan akademiknya, pada program studi kesehatan masyarakat terlihat perbedaan yang sangat fundamental yaitu pada peminatan-peminatannya, sampai sekarang institusi-institusi kesehatan masyarakat Indonesia belum memiliki satu suara terkait hal penting ini. Apabila hal ini terus-menerus terjadi maka akan menciptakan perbedaan kompetensi lulusan tenaga kesehatan dari masing-masing institusi pendidikan. Dengan perbedaan ini maka akan sulit untuk memetakan proyeksi kerja yang diatur lebih lanjut pada RUU tersebut.

Sebelum merancang undang-undang mengenai Tenaga Kesehatan sangat perlu diperhatikan sistem pendidikannya. Dalam menata sistem pendidikan kesehatan pasti diperlukan waktu yang sangat lama. Sebenarnya menurut saya ada dua pilihan tindak lanjut yang sama-sama memiliki konsekuensi untuk pemerintah terkait RUU Tenaga Kesehatan ini, yang pertama adalah tetap berusaha merancang dan mengesahkan undang-undang tentang tenaga kesehatan di tahun ini, namun konsekuensinya adalah tetap ditemukan ketidakcocokan antara proyeksi kerja yang diatur di dalamnya dengan variasi lapangan kerja tenaga kesehatan yang ada di lapangan. Perlu dilihat lagi pada sistem pendidikannya, agar variasi proyeksi kerja yang diatur sesuai dengan kompetensi setiap lulusan tenaga kesehatan. Ketakutan selanjutnya apabila sistem pendidikan belum siap untuk menerima RUU Nakes ini adalah proyeksi kerja yang melebihi standar kompetensi lulusan, atau sebaliknya proyeksi kerja yang sangat minim dibandingkan dengan kompetensi yang dimiliki oleh lulusan institusi kesehatan. Sudah dapat dipastikan bahwa setiap kepala institusi akan membenahi sistem pendidikannya dan melakukan standarisasi di tingkat nasional. Dengan RUU Nakes yang terburu-buru disahkan, maka dalam waktu yang dekat akan diperlukan lagi tenaga dan anggaran yang besar untuk membahas pembaruan payung hukum tentang tenaga kesehatan.

Opsi tindak lanjut kedua yang bisa diambil pemerintah adalah menunggu kesiapan sistem pendidikan kesehatan, mulai dari standarisasi kompetensi, kurikulum sampai dengan berwujud pada mata kuliah yang akan diajarkan. Namun apabila pemerintah menggunakan opsi ini, harus diperhatikan bahwa penataan sistem pendidikan tidaklah cukup satu atau dua tahun apalagi menyangkut banyak disiplin ilmu dan melibatkan ribuan institusi pendidikan kesehatan di Indonesia, sedangkan RUU Nakes ini merupakan amanah dari undang-undang kesehatan yang telah disahkan tiga tahun silam. Selain karena merupakan amanah, banyak kekurangan dari PP nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan yang sampai saat ini berlaku akan terus dijadikan pedoman untuk tenaga kesahatan di Indonesia. Maka setidaknya perlu pembenahan-pembenahan yang dianggap tepat untuk payung hukum terbaru bagi tenaga kesehatan.

 

sumber: http://rifkyanindika-fkm10.web.unair.ac.id/artikel_detail-50313-ISMKMI-RUU%20NAKES,%20Payung%20Hukum%20yang%20Dijanjikan.html

One thought on “RUU Nakes, Payung Hukum yang Dijanjikan

  1. Nasib SKM ada ditangan SKM itu sendiri, tularkan semangat ini keseluruh penjuru Mahasiswa & SKM Nusantara…Salam Sehat & Salam Juang SKM !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: