FCTC, Nasibmu Kini? Lewatkan atau Perjuangkan!

FCTC

Hasil Kajian antara Forum TC ISMKMI & Kastrat BEM FKM UI 2014

Sabtu, 19 April 2014

 

FCTC… Bagi pihak-pihak yang telah lama berkecimpung dalam dunia pengendalian tembakau, FCTC tentu bukanlah hal yang asing. Namun, bagi kalangan umum mulai dari kalangan elite hingga grass root, FCTC mungkin tidak banyak dikenal, bahkan tidak menarik perhatian dan mungkin juga dianggap tidak terlalu penting. Dalam kerangka menuju INDONESIA SEHAT, perlu dipahami bahwa kesehatan harus dipandang sebagai sesuatu yang holistik, tidak hanya sehat secara fisik, namun juga sehat secara mental, sosial, bahkan spiritual. Masalah pertembakauan atau yang umum disebut sebagai masalah rokok telah lama menjadi masalah kesehatan masyarakat (public health problem) yang cukup kompleks dan terkait dengan banyak kepentingan. Keberadaannya sebagai isu publik, ternyata tidak cukup membuat banyak orang peduli terhadap masalah yang sudah mengakar ini. Seiring berjalannya waktu, masalah rokok dan tembakau dengan sangat mudahnya menguap begitu saja, entah karena apa. Tetapi, kehadiran FCTC memberi harapan baru bagi keberhasilan pengendalian tembakau dan rokok di Indonesia, bahkan dunia. Sebuah kabar menggembirakan bagi perjalanan bangsa ini menuju INDONESIA SEHAT.

Hadirnya FCTC tidak semata-mata membuat negeri ini langsung terbebas dari permasalahan tembakau, rokok, dan segala problema yang menyertainya. Namun, FCTC yang masih menjadi tarik ulur antar berbagai pihak di dalam negeri, mengisyaratkan bahwa harus ada perjuangan ekstra untuk mendorong penerapannya di negeri dengan penduduk terbesar keempat di dunia ini. Ya, perlu perjuangan ekstra, perlu gerakan dengan menggalang banyak massa, dan perlu orang-orang yang getol memperjuangkannya, atau FCTC hanya akan menjadi mimpi belaka.

Lalu, apa itu FCTC? FCTC (Framework Convention on Tobacco Control)adalah suatu perjanjian internasional yang mengatur tentang pengendalian masalah tembakau sebagai hasil negosiasi 192 negara anggota Badan Kesehatan Dunia (WHO). FCTC merupakan produk hukum internasional yang bersifat mengikat (internationally legally binding instrument) bagi negara-negara yang menerapkannya.

Pokok-pokok isi FCTC terutama berkenaan dengan upaya untuk menurunkan penggunaan rokok melalui penurunan permintaan (demand), walaupun juga mengandung upaya-upaya yang bersifat menurunkan pasokan (supply). Dalam FCTC disebutkan, upaya penurunan demand terhadap penggunanan tembakau dilakukan melalui beberapa upaya, yaitu: 1) penggunaan mekanisme pengendalian harga dan pajak; 2) pengendalian/penghentian iklan, sponsorship, dan promosi; 3) pemberian label dalam kemasan rokok yang mencantumkan peringatan kesehatan dan tidak menggunakan istilah yang menyesatkan; 4) pengaturan udara bersih (proteksi terhadap paparan asap rokok); 5) pengungkapan dan pengaturan isi produk tembakau; 6) edukasi, komunikasi, pelatihan dan penyadaran publik; serta 7) upaya mengurangi ketergantungan dan menghentikan kebiasaan merokok. Dalam mereduksi supply, dicantumkan beberapa upaya, yaitu yang berhubungan dengan 1) perdagangan gelap/penyelundupan produk tembakau; 2) penjualan kepada dan oleh anak dibawah umur; dan 3) upaya mengembangkan kegiatan ekonomi alternatif (economically viable alternative solutions).

Berikut adalah ringkasan naskah FCTC.

Lobi, Perlu ada pembatasan interaksi antara pembuat regulasi dengan industri rokok à Pasal 5.3; Reduksi demand, perlunya mekanisme pajak dan mekanisme lainnya untuk mereduksi demand à Pasal 6 & 7; Perokok pasif, kewajiban untuk melindungi semua orang dari paparan asap tembakau di ruangan tempat kerja, transportasi umum, dan ruang publik à Pasal 8; Regulasi, isi dan emisi produk tembakau harus diatur dan bahannya harus diberitahukan à Pasal 10; Kemasan dan pelabelan, peringatan kesehatan harus cukup besar (30-50% permukaan depan); pelabelan yang menyesatkan (“mild”, “light”, dll) tidak diperbolehkan à Pasal 9 & 11; Penyadaran, perlunya penyadaran publik tentang bahaya merokok à Pasal 12; Iklan rokok, pelarangan total dalam jangka waktu lima tahun setelah ratifikasi à Pasal 13; Adiksi, adiksi dan program penghentian merokok à Pasal 14; Penyelundupan, upaya untuk mengeliminasi perdagangan gelap produk tembakau à Pasal 15; Anak dibawah umur, larangan penjualan rokok kepada anak dibawah umur à Pasal 16; Penelitian, penelitian tentang tembakau dan pertukaran informasi antar pihak à Pasal 20, 21, dan 22.

Mengapa FCTC penting? Apa urgensinya?

Pertama, Indonesia adalah 1 dari 8 negara di dunia yang belum mengaksesi FCTC bersama beberapa negara Afrika, yaitu Somalia, Zimbabwe, Eritrea, dan Malawi, serta 3 negara Eropa, yaitu Liechtenstein, Monaco, dan Andorra. Dari benua Asia, hanya Indonesia yang belum melakukan ratifikasi, maupun aksesi. Perhatikan dari 8 negara tersebut, siapa yang penduduknya paling banyak? Ya, Indonesia. Artinya, Indonesia secara langsung dan tidak langsung pasti menjadi target utama penjualan industri rokok berskala global, karena sangat potensial; rakyatnya banyak dan uangnyapun juga banyak. Bandingkan dengan Somalia, negara yang sedang terlibat konflik, atau Zimbabwe, negara yang sangat miskin. Untuk membeli air saja susah, apalagi membeli rokok. Negara lain, penduduknya terlalu sedikit dibandingkan Indonesia. Ibarat seorang wanita, Indonesia adalah wanita paling cantik dan molek dari kedelapan wanita lainnya.

Kedua, regulasi terkait rokok di Indonesia masih sangat lemah. Regulasi terkuat yang kita miliki hanya PP 109 tahun 2012. Itupun masih terlalu banyak komprominya, terbukti bahwa industri rokok masih tumbuh subur di Indonesia. Aksesi FCTC diharapkan bisa memperkuat regulasi dalam negeri kita, karena isi dari FCTC memang jauh lebih tegas dan komprehensif dalam mengendalikan tembakau. FCTC tidak hanya fokus dalam penyusunan kebijakan, namun juga solusi atas berbagai implikasi yang muncul dari penerapan kebijakan tersebut.

Ketiga, dengan aksesi FCTC, Indonesia berkesempatan mengikuti Conference of Parties (COP). COP adalah semacam forum dari negara-negara yang telah melakukan ratifikasi maupun aksesi FCTC. Dalam forum tersebut, akan ada evaluasi terkait penerapan FCTC di negara masing-masing. Maka sesungguhnya, Indonesia akan sangat diuntungkan bila masuk dalam COP ini. Hal ini terutama berkaitan dengan status Indonesia sebagai negara berkembang yang akan sangat “dimanjakan”, seperti akan mendapat bantuan hukum untuk penerapan FCTC, bantuan logistik dalam rangka riset produk inovasi tembakau, dan lain-lain. Bantuan hukum yang dimaksud adalah bantuan dalam penyusunan undang-undang (misal: negara lain mengirimkan ahli hukumnya ke Indonesia) atau negara lain memberikan draft UU mereka ke Indonesia.

Jadi, paling tidak jika kita sudah melakukan aksesi FCTC, maka ada benteng awal yang cukup kokok untuk negeri ini dari limpahan nikotin dunia, walaupun kompleksnya masalah pertembakauan di negeri ini masih harus diperjuangkan lebih lanjut.

Hal yang juga penting untuk dipahami adalah bahwa aksesi ini tidak akan menenggelamkan petani tembakau di Indonesia yang saat ini banyak di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kalau masih banyak petani tembakau yang menolak aksesi FCTC, maka patut dipertanyakan ada kepentingan apa di balik penolakan mereka. Padahal, aksesi FCTC ini penting untuk memberikan perlindungan kepada penjualan hasil tembakau lokal, karena jumlah impor tembakau di Indonesia saat ini lebih besar daripada ekspor tembakau yang jelas akan sangat merugikan petani.

Selain itu, FCTC juga memberikan solusi strategis untuk pekerja tembakau. FCTC telah menyebutkan bahwa negara-negara yang telah meratifikasi atau mengaksesi FCTC harus saling bekerjasamadan berkoordinasi serta saling tolong menolong dalam hal finansial agar strategi pengendalian tembakau yang dibuat dapat dilaksanakan dengan efektif dan mencapai tujuan. Bantuan terutama diberikan kepada negara-negara yang perekonomiannya terguncang karena usaha pengendalian tembakau, misalnya negara yang didalamnya banyak terdapat pekerja tembakau atau yang sumber finansialnya banyak didapat dari produk tembakau. Sejumlah negara dan badan yang bergerak di bidang pembangunan telah membuat komitmen untuk memasukkan usaha pengendalian tembakau sebagai prioritas pembangunan. Negara berkembang dan negara dalam transisi ekonomi, salah satunya Indonesia, atas permintaan sekretariat dapat memberikan saran sumber dana yang dapat dimobilisasi setelah terlebih dahulu mengajukannya ke COP. COP akan menentukan apakah akan menambah anggaran dengan meningkatkan mekanisme yang sudah ada atau merintis “voluntary global funds” atau mekanisme penyaluran dana lain untuk mnanggulangi implikasi ekonomi dari kebijakan pengendalian tembakau.

Dari pemaparan di atas, sudah barang tentu bahwa FCTC menjadi sangat penting dan urgent untuk segera diterapkan di Indonesia. FCTC tidak hanya memberi ruang yang sangat luas bagi upaya untuk menyelamatkan generasi saat ini dan masa depan dari bahaya kesehatan akibat rokok, namun juga memberi solusi strategis atas berbagai kompleksitas masalah pengendalian tembakau di berbagai negara di dunia. Dengan diterapkannya FCTC, Indonesia dapat meminimalisir atau bahkan tidak perlu lagi membuang percuma uang negara untuk menangani bahaya kesehatan akibat rokok yang tentu jauh lebih besar dari pendapatan negara yang dihasilkan dari cukai rokok. Oleh karena itu, sangat jelas bahwa penerapan FCTC akan memberi keuntungan yang besar dari sisi kesehatan, maupun ekonomi.

Namun, sangat disayangkan bahwa Indonesia kini sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk meratifikasi FCTC. Padahal,Indonesia adalah salah satu penggagas ratifikasi FCTC dan juga salah satu drafter tervokal. Tetapi,Indonesia masih memiliki kesempatan untuk aksesi FCTC. Hanya saja ironisnya,sampai saat inipunIndonesia,tepatnya presiden belum tergerak hatinya untuk melakukan itu karena intervensi dari berbagai pihak, sehingga Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yg belum mengaksesi FCTC.

Apakah perbedaan ratifikasi dan aksesi?

Ratifikasi dilakukan oleh negara perunding, sedangkan aksesi dilakukan oleh negara non perunding. Selain itu, ratifikasi harus melalui tahap signature (penandatanganan), sedangkan aksesi tidak perlu melalui tahap tersebut. Tetapi, keduanya sama-sama merupakan tahapan penerimaan terhadap pengesahan suatu traktat internasional. Sedikit unik jikadalam kasus Indonesia yang saat ini sudah tidak lagi berkesempatan untuk ratifikasi FCTC. Mengapa? Indonesia adalah negara perunding yang cukup aktif. Sayangnya, saat FCTC dibuka untuk diratifikasi seluruh negara perunding, Indonesia tidak mau bertandatangan. Padahal, saat itu FCTC dibuka untuk ratifikasi hanya dari medio 2003 sampai medio 2004. Karena Indonesia tidak melakukan ratifikasi, maka Indonesia hanya bisa melakukan aksesi. Jadi, seolah-olah Indonesian bukan negara perunding. Namun, dampak hukumnya dan implikasi tetap sama.

Dari segi isi dan kekuatan hukum, FCTC memang tidak perlu diragukan lagi. Jika Indonesia sudah mengaksesi FCTC, maka secara otomatis kekuatan hukumnya akan kuat untuk regulasi di dalam negeri. FCTC adalah payung hukum internsional, oleh karenanya, regulasi di dalam negeri bisa diwujudkan dalam bentuk Undang-Undang (UU) atau Perpres setelah FCTC berhasil diaksesi.

Tetapi bagaimana dengan kebiasaan orang-orang yang sudah terlanjur merokok?

Jika ada pertanyaan seperti itu, lantas mau sampai kapan kita menunggu kebiasaan buruk itu berubah? Sebagai seorang pejuang kesehatan masyarakat, upaya “penyehatan” yang kita lakukan haruslah komprehensif. Masalah kesehatan harus dipandang dari berbagai perspektif agar intervensi yang diberikan pun tidak merugikan pihak manapun. Dalam hal ini, kita sebagai pengusul kbijakan, yuk mulai pikirkan solusinya. Aksesi FCTC memang sangat penting! maha penting bahkan utk menjamin keberlangsungan anak bangsa di masa depan, namun harus dipahami juga bahwa setiap kebijakan pasti ada implikasinya. Entah itu positif atau negatif, harus ada follow-up dan solusi yg kita tawarkan atas implikasi dari kbijakan itu. Memang tidak ada kebijakan yg bisa memuaskan semua orang, tapi paling tidak kita punya solusi utk meminimalkan ketidakpuasan itu.

Jadi, Yuk kita perjuangan aksesi FCTC bersama-sama! Kita galang dukungan sebanyak-banyaknya, dan ayo jadikan Gerakan #DukungAksesi FCTC ini sebagai gerakan semesta!

Untuk mewujudkan aksesi FCTC, kita harus bergerak cepat. Akhir periode pemerintahan di Tahun 2014 ini adalah momentum yang sangat tepat untuk mendorong aksesi FCTC. Kita hanya punya waktu sampai Pilpres 2014 di Bulan Juli. Oleh karena itu, yuk segera bergerak. Kalau bukan sekarang kapan lagi! Kalau bukan kita siapa lagi! Kita pilih perjuangkan di momen ini atau lewatkan! Dan jangan sampai aksesi FCTC hanya tinggal mimpi.

Dan INGAT! Kita tidak hanya mendorong sebuah kebijakan, tapi juga harus pikirkan dan eksekusi solusinya. Maka, untuk pencerdasan lebih mendalam tentang berbagai isu pengendalian tembakau (tobacco control), terutama FCTC dan mendiskusikan bersama plan of action untuk memasifkan gerakan #DukungAksesiFCTC di seluruh penjuru negeri beserta solusi atas berbagai implikasinya, yuk persiapkan dirimu untuk hadir dalam Workshop TC di FKM UI yang merupakan kerjasama antara TCN ISMKMI dengan BEM FKM UI. Kapan? Akhir Mei 2014 Nanti.

So, The Next Agenda is Workshop TC

Coming soon……

 

Jadilah bagian dari pencetak sejarah! Karena bangsa ini butuh KITA J

 

Further information:

@TCN_ISMKMI / ismkmi.tcn@gmail.com / 087852778398 (Atik Qurrota A/FKM UA)

 

Best Regards: TCN ISMKMI 2013-2015

Stay Slow, But Reach The Highest!!!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: