High five to stop Diabetes !

Untitled-2

Halo salam sehat untuk seluruh mahasiswa yang selalu memperjuangkan kesehatan Indonesia. masih semangat berjuang kah? Masih semangat bertarung kah? Masih semangat mecintai Indonesia kah?

Pertanyaan di atas bisa dijawab di hati masing-masing saja.

Kabar gembira untuk seluruh pembaca, mulai hari ini kita akan membuat rubrik PAD yaitu Posting About Desease. Posting ini akan memuat mengenai penyakit menular ataupun penyakit tidak menular. Mulai dari definisinya, penyebabnya, pencegahannya, sampai issu terkini penyakit tersebut baik di Indonesia maupun di dunia. Semoga posting PAD akan bermanfaat untuk kita semua. PAD edisi pertama akan membahas mengenai penyakit Diabetes Melitu.

Check it out guysūüôā

Pertama-tama penulis ucapkan selamat hari Diabetes nasional 18 Desember 2014. Semoga Diabetes pun dapat diatasi dan angka kesakitan diabetes pun menurun. Lanjut ke pengertian diabates .

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronik yang sampai sekarang belum dapat disembuhkan. Istilah DM dapat menimbulkan ketakutan bagi individu yang menderitanya (diabetisi), kecemasan berkelanjutan dan akhirnya menimbulkan depresi. Depresi yang dirasakan oleh diabetisi dapat berupa kemurungan, keputusasaan, ketidakberdayaan,pikiran yang berulang tentang kematian, terutama pada diabetisi dengan komplikasi yang terus berkembang. Hal ini sesuai dengan penjelasan dari Golden seorang doktor dari RS Johns Hopkins di Baltimore, Maryland, yang menyatakan bahwa diabetisi terutama yang telah mendapatkan pengobatan akan meningkatkan risiko terjadinya gejala depresi (McWright, 2008)

Diabetes melitus,¬†DM¬†(Bahasa Yunani:¬†őīőĻőĪő≤őĪőĮőĹőĶőĻőĹ,¬†diaba√≠nein, tembus atau pancuran air) (bahasa latin:¬†mellitus, rasa manis) yang juga dikenal di Indonesia dengan istilah¬†penyakit kencing manis¬†adalah¬†kelainan metabolik¬†yang disebabkan oleh banyak faktor, dengan¬†simtoma¬†berupa¬†hiperglikemia¬†kronis dan gangguan metabolisme¬†karbohidrat, lemak¬†danprotein, sebagai akibat dari:

  • defisiensi¬†sekresi hormon insulin, aktivitas insulin, atau keduanya
  • defisiensi¬†transporter glukosa
  • atau keduanya.

WHO  mengklasifikasikan bentuk diabetes melitus berdasarkan perawatan dan simtoma:

  1. Diabetes tipe 1, yang meliputi simtoma ketoasidosis hingga rusaknya sel beta di dalam pankreas yang disebabkan atau menyebabkan autoimunitas, dan bersifat idiopatik. Diabetes melitus denganpatogenesis jelas, seperti fibrosis sistik atau defisiensi mitokondria, tidak termasuk pada penggolongan ini. (diabetes anak-anak)
  2. Diabetes tipe 2, yang diakibatkan oleh defisiensi sekresi insulin, seringkali disertai dengan sindrom resistensi insulin
  3. Diabetes gestasional, yang meliputi gestational impaired glucose tolerance, GIGT dan gestational diabetes mellitus, GDM.

dan menurut tahap klinis tanpa pertimbangan patogenesis, dibuat menjadi:

  1. Insulin requiring for survival diabetes, seperti pada kasus defisiensi peptida-C.
  2. Insulin requiring for control diabetes. Pada tahap ini,sekresi insulin endogenus tidak cukup untuk mencapai gejala normoglicemia, jika tidak disertai dengan tambahan hormon dari luar tubuh
  3. Not insulin requiring diabetes.

Faktor Resiko Diabetes:

  • Kelompok usia dewasa tua ( > 45 tahun )
  • Kegemukan {BB (kg) > 120% BB idaman atau IMT > 27 (kg/m2)} IMT atau Indeks Masa Tubuh = Berat Badan (Kg) dibagi Tinggi Badan (meter) dibagi lagi dengan Tinggi Badan (cm), misalnya Berat Badan 86kg dan Tinggi Badan 1,75meter, maka IMT = 86/1,75/1,75 = 28 > 27, berarti memiliki Faktor Resiko Dibetes
  • Tekanan darah tinggi (> 140/90 mmHg)
  • Riwayat keluarga DM, ayah atau ibu atau saudara kandung ada yang terkena penyakit diabetes
  • Riwayat kehamilan dengan BB lahir bayi > 4000 gram
  • Riwayat DM pada kehamilan
  • Dislipidemia (HDL < 35 mg/dl dan atau Trigliserida > 250 mg/dl
  • Pernah TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) atau GDPT (Glukosa Darah Puasa Terganggu)

 

Laporan mengenai studi populasi DM di berbagai negara dari WHO tahun 2009 menyebutkan jumlah diabetisi di Indonesia menduduki peringkat enam sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes mellitus-nya terbanyak setelah India, China, Uni Soviet, Jepang, dan Brasil. Data Perkeni cabang Semarang mengenai prevalensi DM di daerah semi urban di Jawa Tengah yaitu Pekajangan yang berada di Kabupaten Pekalongan, menunjukkan bahwa pada tahun 1979 terdapat 2,3% penduduk merupakan diabetisi dan pada tahun 2003 jumlahnya bertambah menjadi 9,2%, jumlah tersebut bahkan menempati urutan ke tiga se-Indonesia dari tahun 2003 (Darmono, 2005).

Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan prevalensi DM tersebut kemungkinan diakibatkan oleh perubahan gaya hidup dan budaya pernikahan antar anggota keluarga yang tinggi sehingga menimbulkan dominasi faktor genetik. Hal tersebut terlihat dari jumlah diabetisi dalam satu keluarga yang sering terdapat lebih dari satu. Keadaan ini akan berdampak pada kondisi psikis anggota keluarga (calon diabetisi/diabetisi) yang akhirnya akan berpengaruh pada kepatuhan penderita dalam melaksanakan program pengendalian DM.

Diabetes Melitus (DM) pada saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang berdampak pada produktivitas dan menurunkan mutu sumber daya manusia. Penderita DM di seluruh dunia pada tahun 2025 berkisar 333 juta orang (5,4%). Berdasarkan catatan organisasi kesehatan dunia tahun 1998, Indonesia menduduki peringkat keenam dengan jumlah penderita diabetes terbanyak setelah India, Cina, Rusia, Jepang, dan Brasil.1 Penderita DM di Indonesia semakin meningkat. Hal ini dapat diketahui bahwa pada tahun 1995 terdapat lebih kurang 5 juta penderita DM di Indonesia dengan peningkatan sekitar 230 ribu penderita setiap tahun, sehingga pada tahun 2025 penderita diabetes di Indonesia diperkirakan akan mencapai 12 juta orang.

Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004). Sedangkan hasil Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%.

Pada dasarnya ada empat tingkatan pencegahan penyakit secara umum yang  meliputi: pencegahan tingkat dasar (primordial prevention), pencegahan tingkat pertama (primary prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus, pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) yang meliputi diagnosa dini serta pengobatan yang tepat, pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) yang meliputi pencegahan terhadap terjadinya cacat dan rehabilitasi (Noor, 2002).

  1. Pencegahan Tingkat Dasar

Pencegahan tingkat dasar (primordial prevention) adalah usaha mencegah terjadinya resiko atau mempertahankan keadaan resiko rendah dalam masyarakat terhadap penyakit secara umum. Pencegahan ini meliputi usaha memelihara dan mempertahankan kebiasaan atau perilaku hidup yang sudah ada dalam masyarakat yang dapat mencegah resiko terhadap penyakit dengan melestarikan perilaku atau kebutuhan hidup sehat yang dapat mencegah atau mengurangi tingkat resiko terhadap suatu penyakit tertentu atau terhadap berbagai penyakit secara umum. Umpamanya memelihara cara masyarakat pedesaan yang kurang mengonsumsi lemak hewani dan banyak mengonsumsi sayuran, kebiasaan berolahraga dan kebiasaan lainnya dalam usaha mempertahankan tingkat resiko yang rendah terhadap penyakit (Noor, 2002).

Bentuk lain dari pencegahan ini adalah usaha mencegah timbulnya kebiasaan baru dalam masyarakat atau mencegah generasi yang sedang bertumbuh untuk tidak meniru atau melakukan kebiasaan hidup yang dapat menimbulkan resiko terhadap beberapa penyakit. Sasaran pencegahan tingkat dasar ini terutama pada kelompok masyarakat berusia muda dan remaja dengan tidak mengabaikan orang dewasa dan kelompok manula (Noor, 2002).

  1. Pencegahan Tingkat Pertama.

Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) adalah upaya mencegah agar tidak timbul penyakit diabetes mellitus. Faktor yang berpengaruh pada terjadinya diabetes adalah faktor keturunan, faktor kegiatan jasmani yang kurang, faktor kegemukan, faktor nutrisi berlebih, faktor hormon, dan faktor lain seperti obat-obatan. Faktor keturunan jelas berpengaruh pada terjadinya diabetes mellitus. Keturunan orang yang mengidap diabetes (apalagi kalau kedua orangtuanya mengidap diabetes, jelas lebih besar kemungkinannya untuk mengidap diabetes daripada orang normal). Demikian pula saudara kembar identik pengidap diabetes hampir 100% dapat dipastikan akan juga mengidap diabetes pada nantinya (Sidartawan, 2001).

Faktor keturunan merupakan faktor yang tidak dapat diubah, tetapi faktor lingkungan (kegemukan, kegiatan jasmani kurang, nutrisi berlebih) merupakan faktor yang dapat diubah dan diperbaiki. Usaha pencegahan ini dilakukan menyeluruh pada masyarakat tapi diutamakan dan ditekankan untuk dilaksanakan dengan baik pada mereka yang beresiko tinggi untuk kemudian mengidap diabetes. Orang-orang yang mempunyai resiko tinggi untuk mengidap diabetes adalah orang-orang yang pernah terganggu toleransi glukosanya, yang mengalami perubahan perilaku/gaya hidup ke arah kegiatan jasmani yang kurang, yang juga mengidap penyakit yang sering timbul bersamaan dengan diabetes, seperti tekanan darah tinggi dan kegemukan.

Tindakan yang perlu dilakukan untuk pencegahan primer meliputi penyuluhan mengenai perlunya pengaturan gaya hidu segat sedini mungkin dengan cara memberikan pedoman:

  1. Mempertahanlan perilaku makan sehari-hari yang sehat dan seimbang dengan meningkatkan konsumsi sayuran dan buah, membatasi makanan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana
  2. Mempertahankan berat bada normal sesuai umur dan tinggi badan
  3. Melakukan kegiatan jasmani yang cukup sesuai dengan umur dan kemampuan
    1. Pencegahan Tingkat Kedua

Sasaran utama pada mereka yang baru terkena penyakit atau yang terancam akan menderita penyakit tertentu melalui diagnosa dini serta pemberian pengobatan yang cepat dan tepat.Salah satu kegiatan pencegahan tingkat kedua adanya penemuan penderita secara aktif pada tahap dini. Kegiatan ini meliputi pemeriksaan berkala, penyaringan (screening) yakni pencarian penderita dini untuk penyakit yang secara klinis belum tampak pada penduduk secara umum pada kelompok resiko tinggi dan pemeriksaan kesehatan atau keterangan sehat (Noor, 2002).

Upaya pencegahan tingkat kedua pada penyakit diabetes adalah dimulai dengan mendeteksi dini pengidap diabetes. Karena itu dianjurkan untuk pada setiap kesempatan, terutama untuk mereka yang beresiko tinggi agar dilakukan pemeriksaan penyaringan glukosa darah. Dengan demikian, mereka yang memiliki resiko tinggi diabetes dapat terjaring untuk diperiksa dan kemudian yang dicurigai diabetes akan dapat ditindaklanjuti, sampai diyakinkan benar mereka mengidap diabetes. Bagi mereka dapat ditegakkan diagnosis dini diabetes kemudian dapat dikelola dengan baik, guna mencegah penyulit lebih lanjut (Sidartawan, 2001).

  1. Pencegahan Tingkat Ketiga

Pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) merupakan pencegahan dengan sasaran utamanya adalah penderita penyakit tertentu, dalam usaha mencegah bertambah beratnya penyakit atau mencegah terjadinya cacat serta program rehabilitasi. Tujuan utama adalah mencegah proses penyakit lebih lanjut, seperti perawatan dan pengobatan khusus pada penderita diabetes mellitus, tekanan darah tinggi, gangguan saraf serta mencegah terjadinya cacat maupun kematian karena penyebab tertentu, serta usaha rehabilitas (Noor, 2002).

Upaya ini dilakukan untuk mencegah lebih lanjut terjadinya kecacatan kalau penyulit sudah terjadi. Kecacatan yang mungkin timbul akibat penyulit diabetes ada beberapa macam, yaitu:

  • Pembuluh darah otak, terjadi stroke dan segala gejala sisanya.
  • Pembuluh darah mata, terjadi kebutaan.
  • Pembuluh darah ginjal, gagal ginjal kronik yang memerlukan tindakan cuci darah.
  • Pembuluh darah tungkai bawah, dilakukan amputasi tungkai bawah.

Untuk mencegah terjadinya kecacatan, tentu saja harus dimulai dengan deteksi dini penyulit diabetes, agar kemudian penyulit dapat dikelola dengan baik di samping tentu saja pengelolaan untuk mengendalikan kadar glukosa darah (Sidartawan, 2001).

Pemeriksaan pemantauan yang diperlukan untuk penyulit ini meliputi beberapa jenis pemeriksaan, yaitu:

  • Mata, pemeriksaan mata secara berkala setiap 6-12 bulan.
  • Paru, pemeriksaan berkala foto dada setiap 1-2 tahun atau kalau ada keluhan batuk kronik.
  • Jantung, pemeriksaan berkala urin untuk mendeteksi adanya protein dalam urin.
  • Kaki, pemeriksaan kaki secara berkala dan penyuluhan mengenai cara perawatan kaki yang sebaik-baiknya untuk mencegah kemungkinan timbulnya kaki diabetik dan kecacatan yang mungkin ditimbulkannya.

 

Nah, cukup sekian edisi pertama PAD kali ini. Semoga semua informasi mengenai penyakit diabetes melitus dapat kita sebar ke semua orang yang membutuhkannya. Ikuti terus Posting About Desease yang terbit setiap malam sabtu.

 

Selamat bermalam sabtu pejuang kesehatan Indonesia.

Salam sehat !

ISMKMI satu, Indonesia jaya !!

 

Sumber :

  1. Widyaastuti, Dinda. Hubungan Antara Depresi Dengan Kepatuhan Melaksanakan Diit PadaDiabetisi di Pekalongan. Jurnal Ilmiah Kesehatan. Vol. IV No. 1 Maret 2012
  2. Zathamal, dkk. Faktor-Faktor Risiko Pasien Diabetes Mellitus. Jurnal Ilmiah Kesehatan. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Kedokteran Komunitas FK Universitas Riau
  3. Hasnah. Pencegahan Penyakit Diabetes Melitus Media Gizi Pangan, Vol VII Edisi 1, Januari-Juni 2009 .

 

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: