Tantangan Tenaga Kesehatan Masyarakat Tingkat Global*

public-health-hands_1Word Trade Organization menetapkan pendidikan sebagai salah satu komponen penting dalam sektor tersier dengan fokus kegiatan pada mentransformasi manusia dari yang tidak berpengetahuan dan tidak trampil menjadi berpengetahuan dan trampil. Sebagai Negara yang telah menjadi anggota WTO sejak tahun 1995, maka Indonesia terikat dengan semua perjanjian yang mengatur tata-perdagangan barang, jasa dan trade related intellectual property rights (TRIPS) atau hak atas kepemilikan intelektual yang terkait dengan perdagangan[1]

Dalam mengantisipasi globalisasi di bidang pendidikan maka Direktorat Perguruan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional, berupaya menetapkan Kerangka Kualifikasi Nasional termasuk pula dalam bidang kesehatan, sehingga tenaga kesehatan di Indonesia siap menghadapi masuknya tenaga kesehatan asing karena memiliki kualifikasi yang setara internasional. Di dalam kerangka kualifikasi ini penekanan utama adalah kompetensi atau kemampuan tenaga kesehatan masyakarat untuk dapat melakukan pelayanannya di masyarakat.

Mengingat masih beragamnya kemampuan tenaga kesehatan masyarakat yang dicetak oleh 165 perguruan tinggi di Indonesia, maka dibutuhkan penyeragaman kompetensi lulusan sarjana kesehatan masyarakat tanpa menekan keragaman spesialisasi yang telah tercipta di berbagai daerah karena desakan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.

Council on Linkages between Academia and Public Health Practice (2001) membagi dua jenis profesi kesehatan yaitu yang tergolong regulated dan non regulated. Profesi kesehatan yang regulated adalah: dokter komunitas, dokter gigi, perawat kesehatan masyarakat, mikrobiolog, petugas labolatorium, ahli gizi dan sebagainya. Profesi ini membutuhkan ijin sebelum mereka dapat melakukan pelayanannya di masyarakat.

Jenis non regulated adalah jenis profesi kesehatan yang tidak membutuhkan ijin untuk melakukan pelayanannya di masyarakat karena fokusnya bukan pada individual melainkan masyakarat. Walaupun profesi ini tidak perlu mendapatkan ijin namun golongan ini perlu mendapatkan sertifikasi yang menstardarnisasikan kompetensinya.

Nah, siapkah kita? Mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang akan menjadi bagian untuk pembangunan Indonesia? Untuk Indonesia lebih baik, untuk pejuang-pejuang kesehatan Indonesia. Siapkan diri, dengan terus belajar dan belajar. Satu kuncinya : fokus dan konsisten! Nah!

*Naskah diambil dari Naskah Pendidikan kesehatan Masyarakat yang disusun oleh IAKMI dan AIPTKMI

Ed : Jarkom Nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: