Haruskah ada Perang Saudara Diantara Kita (Pihak Pro & Anti Rokok)?

TCN ISMKMISepenggal kisah dari Dialog Publik bersama Menteri Kesehatan & Pihak Lintas Sektoral (Gub. Jatim, Pakar Ekonomi-Kesehatan-Sosial-Budaya, Kemenkes, LDFE-UI, IAKMI, APTI-Asosiasi Petani Tembakau Indonesia, Industri Rokok, Kelompok Penyelamat Industri Hasil Tembakau, Kadin, LSM, AUS Aid, Media, dan Mahasiswa)  di Garden Palace Hotel Surabaya, 29 Januari 2014

Kemarin, 29 Januari 2014… Kami (Delegasi BEM FKM UA, ISMKMI, dan beberapa dosen FKM UA) mendapat undangan dari Kementerian Kesehatan untuk hadir dalam  Dialog Publik dengan tema “Menuju Masyarakat Jatim yang Lebih Sehat dan Sejahtera.” Didalamanya, dibahaslah berbagai isu kesehatan, baik di Jatim maupun di Indonesia. Salah satu yang menjadi isu panas dalam agenda dialog ini adalah masalah “ROKOK”.

Agaknya, walaupun dialog ini dibingkai dalam tema yang amat global, namun saya pribadi mengerti betul, bahwa sesungguhnya inti pembicaraan yang menjadi goal dalam agenda ini adalah masalah tembakau, rokok, dan segala permasalahannya, termasuk mengenai tarik ulur aksesi FCTC. Tak mengherankan memang, karena belakangan saya tau bahwa inisiator dialog publik ini adalah MEDIA dengan sokongan dana dari sebuah lembaga donor internasional yang cukup mahsyur, yaitu AUS Aid.

Mulai dari materi pembuka yang disampaikan oleh Pakdhe Karwo-panggilan akrab rakyat Jatim untuk gubernurnya- yang amat gemar melemparkan canda, hingga materi dari Bu Menkes yang juga dibuat secair mungkin, tanpa bermaksud mengarah pada konfrontasi, begitulah kata Menkes dan moderator yang seorang jurnalis papan atas dari sebuah media yang cukup terkenal di Indonesia, namun tetap tak dapat dipungkiri, bahwa muaranya tetaplah pada satu hal, yaitu ROKOK. Arah dialog ini semakin jelas ketika saya memperhatikan undangan yang hadir. Ternyata, media sengaja mempertemukan dua pihak yang bersebrangan, yaitu mereka yang PRO dan ANTI ROKOK.

Untuk pertama kalinya, saya dipertemukan dengan orang-orang yang seringkali muncul di media, entah tulisan, gagasan, riset, bahkan pernyataan vokalnya dalam menyuarakan kepentingan masing-masing. Dari dekat, saya melihat kehadiran Pak Kartono Muhammad (Ketua TCSC IAKMI), Abdillah Ahsan (Peneliti LDFE-UI), Pihak Industri Rokok, Wakil Ketua Kadin Jatim, petinggi berbagai LSM, hingga petinggi APTI (Asosiasi Petani Tembakau Indonesia). Inilah panggung sesungguhnya dari perjuangan pengendalian tembakau dan rokok di Indonesia!

Tak ada yang mengejutkan selama Pakdhe dan Bu Menkes menyampaikan materinya masing-masing. Bahkan, suasana masih sangat hangat dengan canda yang seringkali dilemparkan spontan oleh Pak Gubernur nyentrik satu ini. Tak ada masalah sepanjang penyampaian dua orang penting ini. Tak ada interupsi, tak ada keributan, dan tak ada juga sahutan disertai teriakan tak penting dan tak manusiawi, walau kilat kamera tak henti menyorot Kami semua yang ada dalam ruangan megah itu. Yaaah…  seperti lazimnya sebuah  dialog bergengsi yang seringkali ditampilkan di televisi, sorot kamera ada dimana-mana. Lazimnya media, begitulah mereka bekerja.

Setelah usai penyampaian dari Pakdhe Karwo dan Bu Menkes, sesi dialog pun dibuka. Ternyata, disinilah mereka yang PRO dan ANTI ROKOK bebas berbicara, selama masih dalam batas etika dan kemanusiaan. Tiga pembicara pertama adalah mereka yang PRO ROKOK, yaitu APTI, Kadin, dan Kelompok Penyelamat IHT (Industri Hasil Tembakau). Dengan lihainya, mereka memproklamirkan diri sebagai orang-orang yang luar biasa berjasa atas 7% pendapatan negara dari produksi tembakau. Tak hanya sampai disitu, mereka memberikan analogi-analogi yang membuat rokok seolah menjadi barang halal nan menyehatkan yang bebas dikonsumsi siapapun. Tak jarang, mereka mengecam pihak-pihak ANTI ROKOK yang dalam pandangan mereka, menjadikan petani tembakau sebagai orang paling berdosa dan tidak manusiawi memandang petani. Pertanyaan-pertanyaan provokatif pun sengaja mereka lemparkan tanpa beban. Kenapa hanya rokok yang dicap merugikan kesehatan? Kenapa banyak orang yang begitu keras menentang rokok? Kenapa petani harus membatasi produksi tembakau, sementara belum ada tanaman lain yang lebih menguntungkan? Ya, itulah pembelaan mereka.

Suasana pun berubah menjadi semakin panas. Saya sebagai salah seorang pihak yang ANTI ROKOK pun ikut panas! Rasanya begitu geregetan mendengarkan satu persatu pernyataan mereka. Miris dan menyakitkan… Saya lihat satu persatu wajah orang-orang yang berada dalam ruangan, tak ada yang tak gelisah. Semuanya terlihat geram, ingin berbicara dan mempertahankan argumennya. Namun untungnya, kondisi ruangan masih terkendali. Sampai pembicara berikutnya, seorang wartawan sebuah media massa terkemuka di Indonesia yang memposisikan dirinya NETRAL, semua masih bisa dikendalikan. Tidak ada reaksi berlebihan dari pihak keamanan yang sengaja disiagakan mengelilingi ruangan tempat acara berlangsung, juga protokoler dua pejabat tinggi yang dihadirkan. Semua masih AMAN.

Namun, suasana berubah tegang, tensi semakin tinggi, dan mungkin hampir mencapai puncaknya ketika seorang ketua LSM ANTI ROKOK berbicara. Tak sampai satu kalimat ia bicara, teriakan-teriakan tak pantas dari mereka yang mengatasnamakan petani tembakau menggema seantero ruangan. Genderang perang seakan telah ditabuh. Semuanya panik dan hampir ‘chaos.’ Semua petugas kemanan hingga protokoler bergegas berupaya mendinginkan kembali suasana yang sudah terlanjur panas. Orang yang tak sampai satu kalimat berbicara tadi dipaksa berhenti bicara, dan digelandang keluar dari ruangan di lantai 24 hotel tersebut untuk menghindari keributan yang lebih parah. Sungguh Ironis!

Konflik pun diredam, walau sisa keresahan itu masih ada. Dialog sudah akan ditutup karena Pakdhe dan Bu Menkes harus beranjak ke agenda lain yang lebih penting. Mungkin mereka kecewa dengan dialog yang semestinya memecahkan masalah, kenapa justru menimbulkan masalah hanya karena oknum-oknum tertentu. Tapi, apa mau dikata. Semua telah terjadi.

Sejujurnya, dalam hati saya menangis. Melihat dua pihak yang sesungguhnya adalah saudara satu bangsa, satu tumpah darah, satu tanah air berselisih begitu hebatnya hanya gara-gara ROKOK! Mengapa Kita harus terlibat Perang Saudara hanya gara-gara satu barang yang lebih banyak mudharat daripada manfaatnya? Kenapa kita tidak bisa bijak memandang sebuah permasalahan? Satu yang saya yakini, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Jika terjadi perbedaan pendapat, bahkan sampai pertentangan, itu bukanlah sebuah KESALAHAN, bukan juga DOSA yang tak terampuni. Takkan ada yang sama di dunia ini, perbedaan adalah hukum alam. Tak bisa dihindari, tapi harus dihadapi. Kalau hanya berbeda pendapat soal ROKOK saja kita harus ribut, Bagaimana Kita bisa menyelesaikan permasalahan bangsa yang lebih besar? Apa ini cerminan Indonesia Masa Kini? Semoga TIDAK!

Dalam analisa saya pribadi, dengan mengesampingkan posisi saya saat ini sebagai bagian dari pihak yang peduli kesehatan dan tentunya ANTI ROKOK, perbedaan itu sesungguhnya bisa dengan perlahan kita cari solusinya bersama-sama, asalkan tak ada egoisme dan invidualisme yang selama ini menjadi batu rintangan terbesar dalam menyelesaikan setiap permasalahan ROKOK di Indonesia. Kata PRO atau ANTI ROKOK bukanlah sebuah kata radikal yang membuat kita tak bisa berpikir jernih, hanya melihat dari satu perspektif. Hanya ingin pihak kita untung, tapi tak peduli pihak lainnya yang merugi.

Selama ini, mungkin kita terlalu EGOIS, INDIVIDUALIS, SOMBONG, dan tak mau berjalan beriringan. Semua sibuk dengan kepentingannya sendiri. Ayolah, mulai kita buka mata, kita lapangkan hati. Pandanglah sebuah masalah dari berbagai perspektif. Berpikirlah komprehensif dan holistik. Sebagaimanapun hebatnya kita, percayalah! Kita tak akan bisa berjalan sendiri. Kita butuh saudara, Kita butuh teman, dan Kita butuh kasih sayang. Maka, marilah kembalikan persaudaraan kita. Tak semestinya persaudaraan ini runtuh hanya karena ROKOK. Marilah kita selesaikan masalah yang sudah mengakar ini bersama-sama, kita cari solusinya bersama-sama, dan ayo melangkah bersama, seiring sejalan.

Jika mereka yang PRO ROKOK tetap pada pendiriannya, maka hakikatnya mereka hanya peduli pada diri dan kelompok mereka saja. Mereka hanya mengejar untung, untung, dan untung secara materi, tapi mengesampingkan kepentingan jutaan rakyat Indonesia yang ingin menghirup udara sehat tanpa asap rokok. Begitu juga mereka yang ANTI ROKOK jika tetap pada pendiriannya, menuntut kebijakan macam-macam untuk mengendalikan tembakau, berupaya menyelamatkan jutaan rakyat Indonesia dari asap rokok, tapi tak bisa mencari solusi untuk petani tembakau yang mungkin sedikit banyak akan terkena imbasnya. INGAT! Sesedikit apapun mereka yang dirugikan karena pengendalian tembakau dibandingkan jutaan rakyat Indonesia yang tak ingin terpapar asap rokok, mereka semua tetaplah saudara kita, sesama rakyat Indonesia. Maka, kita juga harus mencarikan solusi terbaik untuk mereka yang merugi ini, karena sekecil apapun dampaknya, dampak itu tetap ada dan harus diselesaikan juga. PEMERINTAH sebagai fasilitator juga harus BIJAK. Berani membuat kebijakan, harus berani implementasi. Jika ada dampak dari implementasi itu, carikan solusi yang tepat! Jangan diabaikan begitu saja.

Jika satu kementerian tak bisa menyelesaikan masalah sendiri, maka berjalanlah bersama kementerian lain yang terkait. Jangan bekerja sendiri, seolah semua persoalan bisa diselesaikan sendiri. Singkirkan ego-sektoral, jangan hanya mengejar pencitraan. Lakukanlah langkah nyata yang memuaskan seluruh rakyat. Memang tak ada satupun kebijakan yang bisa diterima semua orang, tapi paling tidak ada langkah yang disiapkan untuk mengatasi dampak dari kebijakan apapun.

Jika ada yang menuntut fairness, ayo kita cari jalan keluar yang paling fair. Fair tidak harus selalu sama, tapi harus setara dengan bobot persoalan yang ada. Fair bukan berarti jika di bungkus rokok ada peringatan kesehatan, kemudian di kemasan atau di gerai-gerai makanan junkfood kemudian juga diberi peringatan yang sama. Dalam hemat saya, itu bukan bentuk kesetaraan, tapi kesamaan. Sedangkan fair harus setara dengan bobot permasalahan, bukan harus sama. Rokok yang sudah menjadi masalah global, bisa dikonsumsi siapapun mulai dari mayarakat yang bahkan sangat miskin, hanya punya rumah tidak permanen di pinggiran rel sampai pejabat tinggi sekalipun, dari mulai anak hingga dewasa, dijual eceran di pedagang asongan, warung,  toko kecil, hingga toko besar  tentu berbeda bentuk fairness intervensinya dengan junkfood yang notabene hanya ada di gerai-gerai makanan elite yang hanya bisa dijangkau oleh orang-orang yang tingkat ekonominya menengah ke atas. Maka sekali lagi, ayolah berpikir lebih jernih. Gunakan analogi yang relevan, jangan sembarangan menganalogikan sesuatu.

Jadi, masihkah ada perang saudara diantara Kita? Toh, tujuan kita sesungguhnya sama… Berbuat untuk Indonesia yang Lebih Baik. Hanya saja, langkah yang kita ambil berbeda. Maka, tidak seharusnya kita berselisih. Perbedaan tak pernah di HARAM kan, tapi Berbeda-lah yang ELEGAN. Perbedaan diciptakan untuk sebuah HARMONI yang INDAH. Jadi, Ayo Kita Wujudkan Harmoni Itu. Mari melangkah bersama, mengintegrasikan segala upaya untuk membuat negeri ini menjadi lebih HEBAT! Karena kita adalah…… SAUDARA🙂

“Hanya sebuah curahan hati yang wajib disampaikan sebagai pribadi dan sebagai bagian dari kepedulian terhadap bangsa dan negeri tercinta, INDONESIA

-Atik Qurrota A’Yunin A.-
Universitas Airlangga, TCN ISMKMI

Diambil notes fb :

https://www.facebook.com/notes/atik-q-a-yunin/haruskah-ada-perang-saudara-diantara-kita-pihak-pro-anti-rokok/620606698005347

 

( Atik Setyoasih, UAD )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: