Stop Smoking or Stop Breathing

Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei 2010

Oleh : Nilna R. Isna, Universitas Andalas, Korwil I ISMKMI

Pembuka

Rokok telah membunuh diam-diam generasi bangsa. Rokok seakan-akan bukan barang berbahaya melainkan tak ubahnya sebagai sarapan pagi dan lebih penting daripada susu bayi. Rokok dianggap telah menyumbang untuk perekonomian Indonesia padahal akibat yang ditimbulkannya membuat negara bangkrut dari segi finansial, SDM, dan produktivitas. Pajak yang dihasilkan rokok dibuat seakan-akan “dewa” bagi negeri ini karena apabila perusahaan rokok ditutup maka negara tidak punya pemasukan “hebat” lagi. Negara ini lalu bungkam dan membiarkan rokok membunuh diam-diam bangsa.

Maka ada baiknya kita cek dulu 9 (Sembilan) fakta mengenai rokok yang saya rangkum dari berbagai sumber ilmiah :

  1. 1.172 orang meninggal setiap hari karena rokok.
  2. Indonesia saat ini adalah peraih medali perunggu jumlah perokok terbesar di dunia.
  3. Matikan Rokok Suami Anda. Istri dan anak yang terpapar asap rokok (perokok pasif) menyebabkan istri melahirkan bayi berat badan lahir rendah, lahir mati, dan abortus spontan dan menyebabkan anak menderita infeksi saluran nafas bagian bawah, penyakit telinga tengah, gejala pernafasan kronik, asma, dan kematian bayi secara mendadak (sudden infant death syndrome-SIDS)
  4. 3 dari 10 pelajar terbukti merokok pertama kali sebelum mencapai usia 10 tahun. Diantara pelajar yang merokok, sebesar 3,2 % telah kecanduan dengan indikator hal pertama yang diinginkan di pagi hari adalah merokok.
  5. Kebiasaan merokok kepala keluarga menggeser pengeluaran rumah tangga dari Makanan ke Rokok  dan memicu kurang gizi pada balita.
  6. Pengeluaran rokok Rumah Tangga Miskin Rp 117 ribu/bulan, LEBIH BESAR dari Bantuan Langsung Tunai (BLT) Rp 100 ribu/bulan.
  7. BESAR PASAK DARIPADA TIANG. Siapa bilang Rokok merupakan penyumbang ekonomi untuk Indonesia? Kenyataannya, pengeluaran akibat merokok (167,1 T) adalah 5 X LIPAT dari pemasukan cukai (32,6 T) dari industri rokok itu sendiri.
  8. LARANG IKLAN ROKOK! Fakta : Iklan Rokok membuat merokok adalah hal yang positif dan tidak berbahaya, malah seakan-akan dianggap “mulia”. Padahal rokok membuat ANDA sengsara!!!

[sumber data : TCSC IAKMI kerjasama dengan SEATCA dan WHO]

Pada sebuah seminar anti tembakau di SMAN 6 Padang yang dilakukan oleh mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, seorang siswa bernama Rahmad Arif bertanya kepada saya. “Apakah Kakak pernah dimarahi perusahaan rokok karena apa yang kakak lakukan ini akan membuat perusahaan-perusahaan rokok tersebut bangkrut?” Lalu Ismet Soeltani, siswa SMAN 6 Padang, masih dalam kegiatan yang sama bertanya langsung kepada Depkes dan WHO yang kebetulan hadir saat itu, “Jika memang rokok sangat berbahaya? Mengapa perusahaan rokok tidak ditutup? Mengapa pemerintah diam saja?”

Pertanyaan ini sangat menyentil kami, para mahasiswa, yang hadir saat itu. Pertanyaan-pertanyaan ini juga yang membuat saya kemudian fokus pada permasalahan utama tembakau dengan bekal literatur, materi seminar yang pernah diikuti, dan pengalaman observasi lapangan untuk saya sharing kepada pembaca.

Rokok Vs Kesehatan

Taufiq Ismail dalam sajaknya menganalogikan rokok sebagai “Tuhan 9 senti”. Hal ini tentu tak berlebihan karena kenyataannya setiap seseorang mulai merokok, maka mereka sulit sekali menghentikan kebiasaannya, seakan menuhankan. Bagi perokok pemula, merokok menjadi momok yang menyiksa. Orang yang baru pertama kali merokok akan merasa mual-mual, pusing, batuk-batuk, dan mulut terasa tidak enak. Tetapi pada saat itu nikotin telah mulai menyerang otak dan secara berangsur menimbulkan kecanduan.

Pada saat kecanduan itulah ia akan merasa gelisah, berkeringat, dan mulut terasa tidak enak kalau belum mulai merokok. Kecanduan rokok mirip dengan kecanduan narkoba yang akan gelisah, berkeringat dingin, perut merasa sakit, dan baru akan reda setelah ia mendapatkan narkoba. Demikian halnya narkoba, demikian pula nikotin. Perokok baru akan merasa tenang dan bisa berkonsentrasi lagi setelah ia mendapatkan nikotin. Sayangnya, “merasa tenang” ini dianggap lain sehingga timbul stigma salah yang mengatakan bahwa merokok menimbulkan ketenangan pikiran dan meningkatkan daya konsentrasi. Sesungguhnya bukan itu, seseorang yang terbiasa merokok akan mengalami penurunan konsentrasi dan gangguan pikiran bila tidak merokok.

Rokok merupakan produk berbahaya dan adiktif. Di dalam rokok terdapat 4.000 zat kimia, 69 diantaranya adalah racun yang dapat mencetus kanker. Tidak ada batasan aman paparan terhadap asap rokok orang lain alias perokok pasif. Perokok aktif dan perokok pasif mendapat resiko kesehatan yang sama.  Merokok merupakan penyebab dari 90 % kanker paru pada laki-laki dan 70 % pada perempuan dengan angka kematian lebih dari 85 %. Rokok merupakan penyebab 56-80 % oebtajut saluran nafas kronik. Secara umum, merokok merupakan penyebab 22 % dari penyakit jantung dan pembuluh darah. Perempuan yang merokok maupun terpapar asap rokok mengalami resiko infertilitas (ketidakmampuan untuk hamil) sedang untuk laki-laki meningkatkan resiko impotensi hingga 50 %. Istri dan anak yang terpapar asap rokok (perokok pasif) menyebabkan istri melahirkan bayi berat badan lahir rendah, lahir mati, dan abortus spontan dan menyebabkan anak menderita infeksi saluran nafas bagian bawah, penyakit telinga tengah, gejala pernafasan kronik, asma, dan kematian bayi secara mendadak (sudden infant death syndrome-SIDS. Sayangnya, penyakit-penyakit ini dianggap angin lalu.

Rokok adalah penyebab kematian terbesar.  Satu dari 10 kematian orang dewasa disebabkan oleh konsumsi rokok. Setiap tahun rokok menyebabkan 5,4 juta kematian atau rata-rata satu kematian setiap 5,8 detik. Sementara negara kita, Indonesia meraih medali perunggu sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia (medali emas Cina dan medali perak India), mengalahkan Rusia dan Amerika yang hanya duduk di peringkat keempat dan kelima. Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa lebih dari 60 juta penduduk Indonesia merokok. Kenyataannya, rokok telah membunuh 1.172 orang setiap hari yaitu terhitung sebanyak 427.948 orang meninggal setiap tahun yang diakibatkan oleh penyakit yang berhubungan dengan rokok.

Mirisnya, prevalensi merokok terus meningkat. Peningkatan tertinggi perokok terjdi pada kelompok remaja umur 15 – 19 tahun. Tahun 2004, 1 dari 3 remaja laki-laki usia 15 – 19 tahun adalah perokok aktif. Global Youth Tobacco Survey (GYTS) menyatakan 3 dari 10 pelajar ditemukan merokok sebelum mereka mencapai usia 10 tahun. Diantara pelajar yang merokok, sebesar 3,2 % telah kecanduan dengan indikator hal pertama yang diinginkan di pagi hari adalah merokok. Bahkan yang lebih hebatnya, sekarang ini televisi semakin dihebohkan oleh anak usia 2 tahun yang kecanduan merokok hingga 3 bungkus sehari.

Rokok Vs Uang

Uang senilai 330 miliar dibakar perokok Indonesia dalam sehari. Bandingkan dengan uang yang dicuri koruptor di negeri ini. Angka ini bukan isapan jempol karena faktanya konsumsi rokok tahun 2008 mencapai 240 miliar batang atau 658 juta batang per hari. Pada tahun 2005 dihitung pengeluaran bulanan rumah tangga perokok untuk membeli rokok menempati urutan nomor 2 (10,4%) setelah padi-padian (11,3%). Sementara pengeluaran untuk daging, telur, dan susu besarnya rata-rata 2

Sayangnya, kelompok keluarga termiskin justru terkaya dalam hal konsumsi rokok. Keluarga miskin membelanjakan 12 % pengeluarannya untuk rokok, keluarga kaya hanya mengeluarkan 7% kekayaannya untuk rokok. Dihitung lebih lanjut, ternyata belanja bulanan rokok keluarga termiskin adalah 15 kali lipat biaya pendidikan yang hanya 0,8 % dan 9 kali lipat biaya kesehatan yang hanya 1,3 %. Dibandingkan pengeluaran makanan bergizi, pengeluaran untuk rokok adalah 5 kali lipat pengeluaran untuk telur dan susu, 2 kali lipat pengeluaran untuk ikan, dan 17 kali lipat pengeluaran untuk daging. Bayangkan apabila rokok tidak ada, maka keluarga miskin bisa membiayai pendidikan anaknya hingga kelas 15, dapat berobat gratis hingga 9 kali, memiliki simpanan telur dan susu 5 kali lebih banyak, membeli ikan 2 kali lebih banyak, dan 17 kali makan daging dalam satu bulan.

Ketika pemerintah berupaya menanggulangi kemiskinan dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT), ternyata jumlah itu belum cukup untuk sekedar membeli rokok dalam sebulan. Lebih dari 12 juta keluarga miskin menggunakan dana BLT untuk membeli rokok. Survey Sosial Ekonomi Nasional 2006 menunjukkan rata-rata pengeluaran rokok pada keluarga perokok adalah Rp 117 ribu per bulan. Jumlah ini lebih besar dibanding dana BLT yang hanya Rp 100 ribu per bulan. Program pengurangan kemiskinan tentu akan terhambat apabila keluarga miskin masih terperangkap adiksi rokok.
Kemudian industri rokok dianggap telah berjasa terhadap pendapatan negara melalui cukai rokok. Faktanya, lebih besar pasak daripada tiang. Pada tahun 2005, pengeluaran negara dan rakyat untuk pengobatan penyakit akibat rokok mencapai 167, 1 triliun rupiah sementara penerimaan negara dari cukai rokok hanya mencapai 32,6 triliun rupiah. Angka yang dihasilkan dari penelitian Soewarta Kosen, Depkes, 2005 ini merincikan pengeluaran tersebut berasal dari Rp 103,5T (biaya membeli rokok) + Rp 1,99 T (biaya pengobatan untuk perawatan kanker, jantung dan pembuluh darah, penyakit saluran pernafasan, dan gangguan perinatal) + Rp 61,6 T (biaya akibat tahun produktif yang hilang karena kematian dini, sakit, dan kecacatan). Jikalaupun biaya untuk membeli rokok dihilangkan, pengeluaran negara akibat rakyat yang merokok tetap lebih tinggi daripada cukai yang dihasilkannya yaitu Rp 63,59 T : Rp 32,6 T.

Rokok Vs Iklan

Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok secara sistematis, masif dan terus menerus mengkondisikan anak menjadi perokok pemula. Massifnya iklan, promosi, dan sponsor rokok menjadi pemicu naiknya jumlah perokok anak dan remaja secara drastis. Industri rokok di Indonesia memiliki kebebasan yang hampir penuh mempromosikan produknya dengan berbagai cara. Adalah berbohong jika iklan rokok ditujukan untuk mengingatkan agar perokok beralih ke produk baru.

Kenyataannya adalah iklan rokok ditujukan untuk mencari perokok baru.  Bagi orang yang sudah kecanduan merokok, ada atau tidak ada iklan ia tetap mencari dan membeli rokok pertama yang sudah dicandunya. Sekali kecanduan, ia tidak dapat lepas lagi dari cengkraman rokok dan biasanya setia pada produk yang sudah biasa ia hisap.

Oleh karena itu, tidak masuk akal jika iklan rokok dimaksudkan kepada mereka yang sudah merokok. Satu-satunya kemungkinan iklan rokok lebih ditujukan untuk mencari perokok baru, terutaam di kalangan anak-anak dan remaja karena sekali mereka sudah terjerat, seumur hidup ia akan menjadi pembeli produk rokok tersebut.

Iklan rokok lebih tepat disebut sebagai media untuk mencari mangsa baru. Laporan Myron E. Johnson ke Wakil Presiden Riset dan Pengembangan Phillip Morris menyebutkan “Remaja hari ini adalah calon pelanggan tetap hari esok karena mayoritas perokok memulai merokok ketika remaja.” Pernyataan ini didukung oleh  R.J Reynolds Tobacco Company Memo Internal, 29 Februari 1984 dalam “Perokok Remaja: Strategi dan  Peluang” yang mengatakan, “Perokok remaja telah menjadi faktor penting dalam perkembangan setiap industri rokok dalam 50 tahun terakhir. Perokok remaja adalah satu-satunya sumber perokok pengganti. Jika para remaja tidak merokok maka industri akan bangkrut sebagaimana sebuah masyarakat yang tidak melahirkan generasi penerus akan punah..”

Hampir semua iklan rokok bertemakan remaja. Perusahaan rokok tahu betul strategi memangsa remaja yaitu “pedekate” lewat musik, olahraga, gaya hidup, budaya, dan agama. Hampir setiap konser di negeri ini disponsori rokok, hampir setiap lapangan olahraga di negeri ini dicat dengan logo rokok, pagelaran seni dan budaya pun tak luput dari gambar rokok, bahkan perdagangan nikotin ini muncul di spanduk-spanduk seruan keagamaan, belum lagi beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang jika ditilik ulang beasiswa tersebut berasal dari uang penduduk miskin yang tergerus oleh nikotin di dalam rokok.

Strategi pedekate kepada remaja dengan music, olahragam gaya hidup, budaya, dan agama ini disebut sebagai strategi membangun imej “good corporate citizen” sekaligus strategi untuk membungkam pemerintah dan menarik simpati masyarakat. Iklan-iklan tersebut menjadikan merokok adalah hal yang positif dan tidak berbahaya, malah seakan-akan dianggap “mulia” karena pesan sosial yang menjadi kedok kebejatan produknya.

Kembali ke pertanyaan Ismet Soeltani tadi, “Jika memang rokok sangat berbahaya? Mengapa perusahaan rokok tidak ditutup? Mengapa pemerintah diam saja?” Maka jawabannya adalah pemerintah sebenarnya bukan diam tapi dibungkam. Lalu, pertanyaan Rahmad Arif, “Apakah Kakak pernah dimarahi perusahaan rokok karena apa yang kakak lakukan ini akan membuat perusahaan-perusahaan rokok tersebut bangkrut?” Maka jawabannya adalah bagaimana perusahaan rokok akan marah karena yang tengah dibicarakan bukan isapan jempol melainkan data dan fakta yang dikumpulkan dari melihat, mendengar, dan merasakan.

Dalam menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada 31 Mei ini, WHO bersama Depkes dan Dinkes serta kalangan akademisi Kesehatan Masyarakat juga ahli para dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) yang turut didukung oleh mahasiswa terus berupaya mengajak generasi Indonesia menjauh dari “produk amazing yang membunuh bangsa ini” yaitu rokok. Sementara kepada yang telah terlanjur merokok pilihannya hanya dua : “Stop Smoking or Stop Breathing, Berhenti Merokok atau Ikhlaskan Nyawa Anda Sekarang”

Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei. Semoga Indonesia tidak lagi berani bercita-cita meraih medali di kejuaraan jumlah perokok terbesar di dunia ini.

Tagged ,

One thought on “Stop Smoking or Stop Breathing

  1. JAYALAH ISMKMI says:

    SIIIP……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: