Mencegah dan Mengendalikan Dampak Konsumsi Tembakau Melalui Siklus Kebijakan yang Berbassis Evidens Epidemiologi dan Edukasi Publik Sebagai Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Indonesia

Konsumsi Tembakau

Diposting oleh ISMKMI WILAYAH II pada 26 Oktober 2009

Latar belakang

World Health Organization dalam buku panduan strategi pengendalian bahaya tembakau (MPOWER) menjelaskan bahwa kematian akibat tembakau diseluruh dunia amat mengejutkan, terdapat 1 kematian tiap 6 detik, 5,4 juta jiwa pada tahun 2005, 100 juta selama abad ke-20 jika dibiarkan 8 juta jiwa pada tahun 2030 dan 1 milyar jiwa selama  abad ke 21¹. Untuk mengatasi epidemi tembakau, organisasi kesehatan dunia (WHO) mengajak  negara anggotanya untuk menerapkan strategi MPOWER². Strategi MPOWER terdiri atas 6 upaya pengendalian bahaya tembakau yang meliputi: Monitor prevalensi penggunaan tembakau dan pencegahannya, perlindungan terhadap asap tembakau, optimalisasi dukungan untuk berhenti merokok, waspadakan masyarakat akan bahaya tembakau, eliminasi iklan, promosi dan sponsor tembakau, serta raih kenaikan cukai tembakau³. Berbagai data dan fakta menjelaskan bahwa dampak dari tembakau khususnya rokok sangat merugikan bagi kesehatan tubuh manusia, karena dapat menimbulkan penyakit seperti kanker paru, jantung dan berbagai penyakit berbahaya lainnya. Seperti perkiraan global, penyebab kematian di Indonesia yang terkait konsumsi tembakau adalah penyakit jantung, stroke, kanker, penyakit pernapasan khususnya chronic obstructive pulmonary (penyakit paru kronik obstruktif). Ketergantungan terhadap rokok disinyalir disebabkan oleh zat adiksi (nikotin) yang terkandung pada asap yang keluar saat rokok dibakar atau dikonsumsi. Menghisap asap tembakau mengantarkan nikotin dalam jumlah yang besar kedalam otak secara cepat .

Abdilah Ahsan dalam bukunya “Ekonomi Tembakau di Indonesia” menjelaskan bahwa ada hubungan antara kesehatan dan produktivitas ekonomi, hal tersebut berdasarkan teori yang menyatakan bahwa kesehatan merupakan bentuk modal sumberdaya manusia 6. Pertama, Individu yang sehat secara fisik maupun kognitif, yang berdampak pada kemampuan bekerja dengan jam kerja yang lebih panjang, lebih sedikitnya hari-hari absent  dari pekerjaan karena sakit, dan produktivitas yang lebih tinggi baik ditempat kerja maupun sekolah. Kedua, individu yang sehat memiliki umur harapan hidup yang lebih lama. Hal memberi insentif bagi investasi dibidang kesehatan, pendidikan dan bentuk modal manusia lainnya. Ketiga, Usia hidup yang panjang mengarah pada tingkat tabungan pensiun yang semakin membesar selama masa kerja. Keempat, penduduk yang lebih sehat berdampak pada penurunan jumlah anak yang diinginkan karena mortalitas rendah. Perubahan dari tingkat mortalitas dan fertilitas yang tinggi ketingkat yang rendah mengakibatkan meningkatnya proporsi penduduk usia kerja–sebagai factor penentu pertumbuhan ekonomi.

Kesehatan Masyarakat dan Evidens Epidemiologi

Kesehatan masyarakat (Winslow) adalah suatu ilmu dan seni yang bertujuan mencegah timbulnya penyakit, memperpanjang masa hidup dan mempertinggi nilai kesehatan dengan jalan menimbulkan, menyatukan, menyalurkan dan mengkoordinir usaha-usaha di dalam masyarakat kearah terlaksanannya usaha-usaha : memperbaiki kesehatan lingkungan, mencegah dan memberantas penyakit-penyakit yang merajalela dalam masyarakat, mendidik masyarakat dalam prinsip-prinsip kesehatan perorangan, mengkoordinir tenaga-tenaga kesehatan agar dapat melakukan pengobatan dan perawatan dengan sebaik-baiknya, memperkembangkan usaha-usaha masyarakat agar mereka dapat mencapai tingkatan hidup yang setinggi-tingginya sehingga dapat memperbaiki dan memelihara kesehatannya Secara pemahaman, terapan, dan nilai bahwa kesehatan masyarakat merupakan gerakan ”Humanisme” yang universal. Dari sisi yang Pertama, humanisme berarti suatu gerakan intelektual dan kesusastraan yang pertama kali muncul di Italia pada paruh abad ke-14 Masehi9. Dari sisi yang kedua humanisme sering diartikan sebagai paham di dalam filsafat yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia sedemikian rupa sehingga manusia menempati posisi yang sangat sentral dan penting, baik dalam perenungan teoritis-filsafati maupun dalam praktis hidup sehari-hari10. Secara ideal Kesehatan masyarakat bersifat universal dan analisis permasalahan melaui data evidens kesehatan secara jujur digunakan untuk pengambilan keputusan moral untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melaui prinsip keilmuannya

Epidemiologi merupakan salah satu bagian dari ilmu kesehatan masyarakat, di ranah pemahaman, epidemiologi merupakan disiplin ilmu (Klainbaum, et al, 1982; Friedman, 1994)¹¹  atau metode ilmiah (Kelsey, et al, 1996;Timreck 1994)¹². Epidemiologi adalah ilmu empiris yang menangkap fenomena status  dan proses kejadian penyakit/masalah kesehatan dalam populasi manusia (Friss & Seller, 2000)¹³. Didalam epidemiologi komponen pemahaman bermula dari pengamatan populasi dan berakhir pada penarikan kesimpulan tentang etiologi, proses kejadian dan riwayat alami berbagai masalah kesehatan masyarakat¹. Komponen aksi bermula dari penggunaan evidens epidemiologi dalam proses pembuatan kebijakan dan berakhir pada evaluasi dampak kebijakan pada kesehatan masyarakat (Klainbraum, et al, 1982)¹. Sebagai ilmu empiris, epidemiologi melakukan konfirmasi kebenaran teori berdasarkan fakta-fakta yang dapat ditangkap secara indrawi16. Di ranah terapan, epidemiologi mempunyai kaidah axiologis atau kegunaan¹. Berbagai fenomena kesehatan populasi yang ditangkap secara sistematis, rasional dan objek tertentu, dijadikan landasan konsepsional bagi upaya pencegahan dan pengendalian berbagai masalah kesehatan yang dihadapi umat manusia (Gordis, 1996)¹. Di ranah nilai, perhatian utama epidemiologi yang tertuju pada kesehatan umat manusia mengepresikan kaidah norma yang universal (Greenwood, 1935 dikutip dari gordis, 1996)19. Dampak  konsumsi tembakau sangat berpotensi menjadi petaka kesehatan masyarakat karena dapat meningkatkan jumlah mortalitas dan morbiditas dan sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat.

Surveilans Perilaku Merokok

Program pencegahan dan pemberantasan penyakit akan sangat efektif jika didukung oleh sistem surveilans, surveilans epidemiologi adalah suatu proses pengamatan terus menerus terhadap terjadinya penyakit serta kondisi yang memperbesar risiko penularan dengan melakukan pengumpulan data, analisis, interpretasi, dan penyebaran interpretasi serta tindak lanjut perbaikan dan perubahan. Inti dari surveilans epidemiologi adalah menghasilkan informasi epidemiologi yang dapat dipercaya. Secara ringkas aktivitas dari surveilans epidemiologi adalah proses pengumpulan data epidemiologi secara sistematis dan berkelanjutan, pengolahan dan analisis serta interpretasi data agar menghasilkan informasi epidemiologi, penggunaan Informasi untuk menentukan tindakan perbaikan yang perlu dilakukan atau peningkatan program dalam menyelesaikan masalah.

Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu maka perilaku terjadi akibat adanya proses stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, atau teori Skiner lebih dikenal dengan teori “S-O-R” atau Stimulus-Organisme-Respons. Respons akan menghasilkan suatu tindakan, Skinner membedakan respon menjadi 2, pertama, respondent respon atau reflexive yaitu respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu contohnya, mendengar berita musibah dan pendengar menjadi sedih. Kedua, operant respons atau instrumental respon, yakni  respons yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimuli atau perangsang contohnya adalah : apabila seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respons terhadap uraian tugasnya atau job descripsi) kemudian memperoleh penghargaan dari atasannya (stimuli baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya20.

Abdilah Ahsan dalam bukunya “Ekonomi Tembakau di Indonesia” menjelaskan bahwa prinsip ekonomi tentang kebebasan konsumen menyatakan bahwa konsumen sendirilah yang membuat keputusan terbaik tentang bagaimana ia membelanjakan uangnya,  argumen tersebut didasarkan pada dua asumsi Pertama, konsumen mengambil keputusan tersebut berdasarkan pengetahuan yang penuh atas biaya dan manfaat dari keputusan ang diambilnya, asumsi yang kedua adalah individu akan menanggung sendiri semua resiko atas keputusan konsumsi mereka ; artinya si individu mengetahi bahwa orang lain tidak akan menanggung beban atas tindakan individu tersebut , konsumsi tembakau melanggar kedua asumsi tersebut..Jika kita melihat  fakta mngenai perilaku merokok ”rata-rata umur perma kali merokok telah turun menjadi usia 17, 4 tahun. Anak-anak telah dibiasakan sejk dini untuk berfikir bahwa merokok adalah hal yang wajar dan diterima secara sosial fakt a  tersebut menunjukan adanya suatu kegagalan pasar : kekurangan informasi yang utuh tentang resiko kecanduan, dan biaya fnansial dan fisik yang dialami  oleh perokok dan masyarakat²¹.

Pro–Kontra Pengendalian Konsumsi Tembakau di Indonesia

Indonesia sampai saat ini merupakan satu-satunya Negara di asia pasifik yang belum menandatangani Framework Convention Tobacco Control (FCTC) sebuah traktat internasional yang didalamnya terdapat upaya pengendalian bahaya tembakau. Walaupun pemerintah Indonesia berperan aktif dalam forum internasional inter Govermental Negoatiating Body di Geneva²². Namun Indonesia Mengingkari komitmenya dengan tidak meratifikasi FCTC²³ . Pengendalian bahaya tembakau memiliki prioritas rendah dalam agenda kesehatan masyarakat Indonesia² . Melalui hak inisiatif anggota dewan yang disiapkan atas prakarsa IFPPD (Forum Parlemen Untuk Kependudukan dan Pembangunan) bekerjasama dengan tim penyusun undang-undang DPR-RI².  PP 19/2003 melarang orang merokok ditempat umum, tempat kerja, sarana pendidikan, sarana kesehatan, tempat ibadah, tempat bermain anak dan kendaraan umum26 .Daerah yang telah mengeluarkan peraturan kawasan tanpa rokok adalah pemerintah daerah kota bogor, kota Cirebon dan kota Palembang². Gubernur DKI Jakarta mengeluarkan perda no.2 tahun 2005 tentang pengendalian pencemaran udara dan menyelipkan satu pasal yaitu pasal 13 yang mengatur kawasan tanpa rokok². Namun masih dibutuhkan waktu yang cukup panjang dan kesungguhan pemerintah untuk mengawasi pelaksanaan terhadap kepatuhannya29.

Fakta yang terungkap jelas bahwa disinyalir adanya eksploitasi dari pihak industri kepada masyarakat dan menjadikannya korban konsumsi rokok, kebijakan pemerintah belum sepenuhnya dapat sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya, di era reformasi seperti sekarang perlu adanya sebuah reformasi data dan kebijakan yang berbassis fakta. Secara ideal reformasi data dasar mengandung makna bahwa seluruh tahapan siklus pembuatan kebijakan dilakukan berbassis evidens, kebijakan akan melenceng dari yang semestinya akibat definisi masalah yang kabur, batas kebijakan yang tidak jelas dan upaya intervensi alternative yang tidak lengkap (Spassof, 2003)30. Kebijakan adalah seperangkat panduan yang diperlukan untuk mengambil keputusan (Spassof, 1999)³¹. Kebijakan berperan mengintegrasikan, memfokuskan dan mengefektifkan upaya organisasi untuk mencapai sasaran yang ditentukan³² . Berbagai model siklus kebijakan tersedia dalam jenis dan jumlah langkah yang bervariasi³³. Walt mengajukan empat langkah kebijakan yang terdiri dari identifikasi masalah dan pemahaman isu, perumusan, implementasi dan evaluasi kebijakan (Walt, 1944:45)³. Selain berdasarkan pada nilai, ideology, dan tekanan politik, rumusan kebijakan kesehatan juga didasarkan pada evidens³.

Dari hasil pemantauan aktivis industri rokok di Indonesia periode Januari-Oktober  2007 yang dilakukan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA), industri rokok menggunakan semua jenis iklan langsung untuk mengiklankan produknya dengan memanfaatkan beragam media baik luar maupun media cetak dan elektronik 36. Semua PP yang pernah ada membolehkan iklan dimedia cetak maupun di media luar ruangan, sementara PP 19/2003 mengizinkan penayangan iklan rokok di media elektronik dari jam 21.30-05.00 WIB³. Batasan ini terbukti tidak efektif dalam membatasi periklanan rokok di Indonesia, justru hanya membuat iklan rokok semakin kreatif ³. Hal tersebut terkait dengan kondisi tersebut diatas dampak dari konsumsi tembakau berpotensi menjadi petaka kesehatan masyarakat hal tersebut dapat dilihat dari biaya akibat konsumsi tembakau tahun 2001 diperkirakan sebesar Rp. 127,7 triliun meliputi biaya langsung yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk membeli rokok dan biaya pengobatan dan biaya tidak langsung akibat hilangnya produktivitas karena kematian, sakit dan kecacatan. Jumlah ini adalah 7 kali lipat penerimaan cukai pada tahun yang sama yang besarnya Rp. 16, 5 Triliun. Pada tahun 2005, jumlah kematian pada 3 kelompok penyakit utama kanker, penyakit jantung pembuluh darah dan penyakit pernapasan kronik obstruktif diperkirakan sebesar 400.000 orang dan menyebabkan kerugian total sebanyak Rp. 167 Triliun yang berasal dari biaya langsung dan tidak langsung 5 kali lipat pendapatan pemerintah dan bea cukai tembakau tahun  yang sama sebesar Rp. 37 Triliun39.

Konteks Pergerakan Mahasiswa dalam Upaya Pengendalian Bahaya Tembakau

Mahasiswa merupakan asset dan generasi penerus pembangunan bangsa, dalam pergerakannya mahasiswa memilki prinsip Tri Dharma perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat., mahasiswa kesehatan masyarakat memiliki prinsip ilmu kesehatan masyarakat dan berbagai ilmu empiris lainnya seperti, epidemiologi, kesehatan lingkungan,  keselamatan kerja, statistika, pendidikan kesehatan dan ilmu perilaku, kesehatan reproduksi. Mahasiswa sebagai calon intelektual tentunya perlu memahami berbagai kebutuhan masyarakat sebagai pengguna jasa yang dihasilkannya, secara sederhana mahasiswa memilki banyak peluang untuk berkembang. Berbagai perubahan yang dilakukan lewat pergerakan mahasiswa sudah hadir dalam sejarah bangsa  dimulai pada era- pra kemerdekaan, perjuangan melawan pemberontakan, pada masa transisi orde lama menuju orde baru, sampai jatuhnya rezim orde baru, yang ditandai dengan dimulainya era-reformasi.

Sebagai bagian dari masyarakat, mahasiswa berada ditempat yang  strategis terutama dalam upaya advokasi, pergerakan mahasiwa dan perannya di lingkungan civitas akademika ,bukan hanya mendalami disiplin keilmuannya, mahasiswa perlu dan mampu menghasilkan karya, berupa hasil penelitian, temuan dan tentunya prestasi akademik yang tinggi dan maksimal selain itu Partisipasi dan Kontribusi Universal Kontribusi terhadap peningkatan prestasi akademik Realisasi Disiplin Ilmu kesehatan Masyarakat dan penerapannya.  Pergerakan mahasiswa adalah memberkan kontribusi terhadap penyelesaian masalah kesehatan dan pembangunan Komunitas dan Kemampuan menciptakan program kesehatan dan pencegahan penyakit yang berkualitas dan bermoral.

Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil kajian singkat  tentang pemasalahan tembakau di Indonesia ini adalah :

Pertama,  Jumlah mortaltas dan morbiditas yang dtimbulkan oleh konsumsi tembakau diasumsikan menjadi fenomena dan petaka kesehatan masyarakat dan ikut mempengaruhi  kesejaheraan ekonomi, fisik dan mental serta belum disadari sepenuhnya oleh seluruh lapisan masyarakat. di Indonesia.

Kedua, Siklus kebijakan yang berbassis evidens Epidemiologi (data ilmiah) merupakan kebijakan  kesehatan yang berbassis fakta dan kebutuhan yang dihasilkan melali hasil surveilance  namun belum menjadi suatu prioritas dalam pengambilan keputusan  oleh pemerintah, legislatif Indonesia dibidang pengendalian bahaya tembakau.

Ketiga, Perilaku merokok masyarakat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, pengetahuan, akses terhadap rokok, promosi dan sponsor industri  rokok, dan pada umumnya perokok tidak mengetahui efek yang ditimbukan oleh rokok dalam jangka waktu yang panjang.hal tersebut ditenggarai oleh frekuensi edukasi publik yang kurang maksimal sehingga pemahaman masyarakat berbeda antara satu dengan yang lain.

Keempat,   Indonesia sampai saat ini merupakan satu-satunya Negara di asia pasifik yang belum menandatangani Framework Convention Tobacco Control (FCTC) sebagai traktat internasional yang isinya adalah untuk melindungi kesehatan warga negara dari dampak konsumsi tembakau.

Kelima, Pro-kontra terkait isu tembakau di Indonesia terjadi akibat tingkat pemahaman yang berbeda dan dampak dari tidak maksimalnya dari komposisi edukasi kepada masyarakat terkait  permasalahan tembakau dan keberlanjutan gerakan anti rokok  serta dipahami bahwa isu rokok merupakan hal yang sangat sensitif untuk masyarakat indonesia.

Keenam,  Konteks pergerakan mahasiswa dalam bidang pengendalian bahaya tembakau sesuai  dengan  realisasi Tri  Dharma Peruruan  Tinggi adalah pendidikan : sosialisasi internal kampus (pertemuan ilmiah),  penelitian : menghasilkan karya ilmiah yang mendukung peningkatan prestasi akademik maupun non-akademik, pengabdian masyarakat : edukasi dan menghasilkan produk promosi kesehatan dan hasil surveilance perilaku merokok masyarakat., advokasi : membangun kemitraan bersama dengan instiusi terkait baik elemen organisasi mahasiswa, NGO, LSM, maupun audiensi dengan pengambil kebijakan dan pelaksana Program pengendalian bahaya tembakau.

Saran

Berdasarkan dengan hasil kajian singkat dan kesimpulan yang dihasilkan maka izinkan kami untuk memberikan saran melalui artikel singkat dengan judul ”Mencegah dan Mengendalikan Dampak  Konsumsi Tembakau Melalui Siklus Kebijakan yang Berbassis Evidens Epidemiologi dan Edukasi Publik Sebagai Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Indonesia”

Pertama, pentingnya penerapan strategi MPOWER   sebagai bagian dalam upaya pengendaian bahaya tembakau di Indonesia pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat secara luas dan utuh melalui siklus kebijakan berbassis evidens epidemiologi.

Kedua,  perjuangkan isu pengendalian bahaya tembakau sebagai bagian dari agenda reformasi pembangunan kesehatan (pemerintah pusat, provinsi,kabupaten/kota) dan prioritas legislatif nasional ( legislatif ) dan civitas akademika (lingkungan pendidikan) melalui kawasan tanpa rokok (KTR)

Ketiga, eliminasi iklan, sponsor dan promosi produk tembakau dan kemasan pada bungkus rokok, disertai kenaikan cukai dan harga rokok. Dan tingkatkan frekuensi edukasi publik yang berkesinambungan beserta peringatan kesehatan bergambar dan memenuhi syarat.serta ketentuan yang seharusnya pada bungkus rokok (Iyarat FCTC yaitu 30-50 % dari permukaan lebar bungkus rokok, pesan tunggal dan berganti-ganti)

Keempat, segera raftifikasi dan aksesi Framework Convention Tobacco Control (FCTC) sebagai bagian dari upaya dan ”political will”pemerintah republik indonesia

Kelima, Maksimalkan Intensitas program, promosi kesehatan, iklan audio visual serta edukasi masyarakat terhadap dampak konsumsi  tembakau

Keenam,  bentuk komunitas  dan aliansi peduli bahaya  konsumsi tembakau di berbagai elemen , pelajar, dan mahasiswa dan opimaliasi penguatan komitmen Lembaga Swadaya Masyarakat

Referensi

a. Dokumen internal :

1)         Thoha Khaled. 2007. Rekomendasi Rencana Strategis ISMKMI wilayah II. MUNAS ISMKMI ke-X Depok.Universitas Indonesia: Jawa Barat
2)         Erwin N Pratama. Rakernas ISMKMI ke-VI. Protokol Surabaya.2008.Universitas Airlangga:Surabaya
3)         MUNAS ISMKMI ke-X. Anggaran Dasar & Rumah Tangga. 2008. Universitas Jendral Soedirman: Purwokerto
4)         MUNAS ISMKMI ke- X. Garis Besar Haluan Organisasi. 2008. Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto
5)         Hasil Diskusi Daerah & Pusat.Workshop Larang Iklan Promosi dan Sponsor Rokok.2008. KOMNAS ANAK: Depok

b. Dokumen eksternal :

1)         Departemen Kesehatan Republik Indonesia.Rencana Strategis Depkes  RI tahun 2005-2009
2)         Anggaran dasar dan RumahTangga & Kode Etik IAKMI
3)         Tobacco Control Support Centre IAKMI.Profil Tembakau Indonesia. 2007: Jakarta
4)         Deklarasi Palembang, 2007. KONAS IAKMI & Rakernas AIPTKMI
5)         Paket Pengembangan Kawasan Tanpa Asap Rokok:Pedoman untuk Advokator  TCSC IAKMI: Jakarta
6)         Widyastuti Wibisana. Tembakau & Kemiskinan: sumber World Health Organization. 2008. Workshop Pembentukan Kader mahasiswa Peduli Bahaya Tembakau. FKM UI:  Depok
7)         Mary Asunta. Networking Building. 2008. South East Asia Tobacco Control Alliance :Thailand
8)         Keputusan Menteri tenaga kerja & Transmigrasi No.42 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia(SKKNI) tentang tenaga K3
9)         Profil Forum Mahasiswa Indonesia Tanggap Flu Burung wilayah Jawa Bagian Barat
10)       MENKOKESRA. Pedoman Umum Program Aksi Nasional.Pengembangan Kabupaten/Kota Percontohan Dalam Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan Masyarakat Indonesia .2006. Jakarta
11)       Adang Bachtiar.Tantangan Untuk Melangkah Ke depan: Pentingnya Kemitraan. IAKMI. 2009. Jakarta
12)       Recognition and mentoring program- institute Pertanian Bogor (RAMP-IPB) Intensive-student technopreunership program.2008. Bogor

c. Buku Bacaan :

1)         Suwarto,FX. Perilaku Keorganisasian. 1998.  Universitas Atma Jaya :  Yogyakarta
2)         Notoatmodjo Soekidjo. Ilmu Kesehatan Masyarakat. 2003. Rineka Cipta: Jakarta
3)         Aidh bin Abdullah al-Qarni. La Tahzan. 2006.Magfirah: Jakarta
4)         Mahmud Muhammad Al-Hazandar.The Most Perfect Habit.2006.Embun Publishing: Jakarta
5)         Hudzaifah Ismail. Sesegar Telaga Kausar, Tadabbur kreatif 30 ayat Motivasi. 2006. Senayan Publishing : Jakarta
6)         Akses Peran Serta Masyarakat Memahami Lebih Jauh Tentang Community Development. 2003. Indonesia Center for Sustainable Development(ICSD):Jakarta
7)         Baasir Faisal. Pembangunan & Krisis, Kritik dan solusi menuju kebangkitan Indonesia. 2003: Pustaka Sinar Harapan. Jakarta
8)         Media Informasi dan Komunikasi Epidemiologi. Pedoman Surveilans Vektor Terpadu.2006.PAEI.Jakarta
9)         Topatimasang,Roem,et,a.l.Merubah Kebijakan Publik. 2000. Reseach, Education and Dialogue(ReaD): Yogyakarta
10)       M. Gun Gun Sambas.Diktat kuliah.Epidemiologi Pelayanan Kesehatan.2008.Universitas Respati Indonesia:Jakarta
11)       Chandra Budiman. Metodologi Penelitian Kesehatan.2008.Penerbit Buku Kedokteran EGC.Jakarta
12)       Imam Munadi.Menyibak Rahasia di Balik Fenomena Sukses. 2005.Skill Publishing. Jakarta
13)       Abdilah Ahsan, Dkk. Ekonomi Tembakau Di Indonesia. 2008. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.Depok
14)       Daniel H. Pink. Misteri Otak Kanan Manusia. 2008. Think: Jogyakarta
15)       World Health Organization. MPOWER Upaya Pengendalian Konsumsi Tembakau. 2008. Jakarta
16)       Nasrin Kodim. Mencegah dan Mengendalikan Petaka Kesehatan Masyarakat Dengan Siklus Kebijakan Yang Berbassis Evidens Epidemiologi.2006. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok

d. Artikel :
1)        Syahrul Aminullah. Ketahanan Idealisme Profesi Kesehatan ditengah terjadinya Perubahan Pelayanan Kesehatan dari Humanisme menjadi Kapitalis dan Kesiapan Menghadapi Dampak Krisis Ekonomi Global. Diskusi Publik Refleksi Pembangunan Kesehatan Tahun 2008.Jakarta
2)        Sjafii ahmad. Pembangunan kesehatan Masa Depan; Masalah dan Tantangan.2009.Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia. Jakarta
3)        Does Sampoerno.Penyehatan Bangsa Perlu Komitmen Politik.2009. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia. Jakarta
4)        Buchari Lapau. Diperlukan Pendidikan Profesi Epidemiologi Kesehatan Dalam Rangka Menghasilkan Informasi Ilmiah Untuk Pengambilan Keputusan. 2009. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia. Jakarta
5)        Soekidjo Notodmodjo. Promosi Kesehatan ”Roh” Kesehatan Masyarakat. 2009. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia. Jakarta

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: