Pemimpin Itu, Satu Kaki di Surga dan Kaki Lainnya di Neraka

oleh : Mohammad Dzulfikar Arifi, UNIVERSITAS AIRLANGGA, KORWIL III ISMKMI

SEBUAH REFLEKSI DIRI….

Sebuah refleksi diri akan arti kepemimpinan yang sudah menjadi hal yang tidak asing didengar terkait konsepnya, dibaca terkait artikel pengembangannya, dan dibahas dalam diskusi terkait seninya. Namun hal tersulit adalah pada saat kita hendak mempraktekkan segala konsep, mengaplikasikan segala teori kepemimpinan dalam dunia nyata. Patut kita sadari bahwa setiap kita adalah pemmipin dan setiap pemimpin tentunya akan dimintai pertanggungjawaban dari yang dipimpinnya. Nabi menegaskan, “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi…” (Setiap anda adalah penggembala dan setiap anda dimintai tanggung jawab atas gembalaannya…). Tentunya LPJ tertinggi tidak hanya sekedar dinilai oleh peserta musyawarah dunia, namun LPJ yang akan kita berikan kepada ALLAH SWT atas hasil kepemimpinan kita di dunia. Kita tidak melihat berapa orang yang kita pimpin, namun sudahkan kita sebagai pemimpin memberikan senyuman bahagia bagi mereka atau justru kita senantiasa mendzolimi mereka atas kebijakan atau bahkan sikap kita sebagai seorang pemimpin. Na’udzubillahi min dzaalik.

Pemimpin tidak senantiasa sejalan dengan tingginya jabatan kita, karena secara fitrah manusia adalah makhluk yang diamanahi menjadi pemimpin di muka bumi. Tentunya kita pernah menajdi seorang pemipin yang bertanggung jawab pada orang lain. Sebagai ketua kelompok tugas, sebagai ketua kelas, ketua rombongan, koordinator aksi, atau di sebagai suami, istri, atau justru sebagai ketua/komandan organisasi yang membawahi banyak anggota. Dengan begitu sekali lagi, kita senantiasa merefleksikan diri kita sebagai pemimpin, apakah sudah bernilai manfaat atau hanya tidak bernilai atau malah kita membawa kesengsaraan bagi anggota kita.

Ya, satu hal yang bisa kita ambil bahwa hanya dua pilihan yang dapat kita pilih pada saat kita “finish” sebagai pemimpin, SURGA atau NERAKA. Selama proses menuju pilihan tersebut, kita seolah-olah berdiri diantara dua gerbanga, dimana separuh badan kita berada di neraka dan separuh lagi berada di surga. Tinggal bagaimanakah kita mengatur kecondongan tubuh kita terhadap keduanya melalui cara, proses dan hasil kepemimpinan kita.

 

Pemimpin yang didambakan surga adalah dambaan tiap orang. Pemimpin yang melayani dengan tindakannya, memimpin dengan senyumannya dan memutuskan dengan bijaksananya. Imamul-qaumi khadimuhum. Demikian pepatah menyatakan, pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka. Pemimpin yang dapat menjadi teladan bagi orang yang dipimpinnya, pemimpin yang sensitif dan takut terjadi hal yang buruk pada anggotanya walupun karena hal yang kecil, seperti  ungkapan terkenal Khalifah Umar bin Khattab Ra.: “Kalau ada seekor domba yang kakinya terperosok lubang di Hadramaut, ia dalam tanggung-jawabku.” Meskipun lokasi Hadramaut itu ada jauh di Yaman, dan itu pun hanya seekor domba.

Pemimpin yang tidak hanya bijaksana namun juga kuat layaknya Umar bin abdul Azis yang sanggup membuat masyarakatnya makmur tanpa kekurangan, pemimpin yang bertanggung jawab penuh dalam kepemimpinannya, karena ada kesalahan satu titikpun dalam pelaksanaan suatu kumpulan orang tentu bagaimanapun adalah tanggung jawab dari pemimpin itu sendiri. Tentu pemimpin yang “condong” ke surga selalu menjadi dambaan negara, masyarakat, organisasi, rumah tangga, atau bahkan kelompok kecil orang.

Pemimpin yang menginginkan surga, tentu lebih mudah kita mewujudkannya. Lepas semua tanggung jawab yang terjadi pada anggota, acuh dan apatis pada kejadian-kejadian yang menyangkut organisasinya, membuat kebijakan yang menyesatkan, dan akhirnya gunakan kemanfaatan organisasi hanya untuk kepentingan pribadi. Bahkan kejadian bentrok antar dua kubu di organisasinya (baca : Contoh kasus HKBP) juga tetap merupakan tanggung jawab seorang pemimpin.

Jangankan pemimpin yang seperti itu, ketika ada anggota atau orang yang kita pimpin mengeluh, “ngresula” atau bahkan menangis karena sikap, tindakan dan kebijakan kita, curigalah bahwa itu bisa jadi juga sebagai “jalan” kita menuju neraka.

Akhirnya berada dim persimpangan antara surga dan neraka tentunya tidak abadi, akan menimbulkan konsekuensi logis bagi kita untuk segera menentuka pilihan. SURGA atau NERAKA…..

(Teruntuk diri ini yang penuh salah dan mereka para calon pemimpin bangsa, masyarakat dan peradaban yang juga beresiko “mendzolimi”)

M.D.ARIFI

“Persepsi Menentukan Aksi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: